<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059</id><updated>2012-02-16T17:52:58.709+07:00</updated><category term='FATWA'/><category term='Hikmah'/><category term='Wacana'/><title type='text'>Islamuna</title><subtitle type='html'>Wacana, Kajian keislaman, Fiqh</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-5594032894618558000</id><published>2009-08-20T18:04:00.000+07:00</published><updated>2009-08-20T18:04:00.249+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FATWA'/><title type='text'>FATWA-FATWA TENTANG PUASA (2)</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HUKUM PUASA BAGI ORANG YANG SAKIT DAN MUSAFIR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya :&lt;br /&gt;"Dan barangsiapa yang sakit atau dalam keadaan bepergian hendaklah ia mengganti pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran." (Al- Baqarah:185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sakit ada dua macam, pertama orang yang sakit terus-menerus dan tidak dimungkinkan kesembuhannya seperti kanker, maka tidak wajib baginya berpuasa karena kondisinya memang tidak memungkinkan untuk itu, akan tetapi ia harus membayar fidyah dengan cara memberi makan seorang miskin setiap harinya. Mungkin pula untuk mengumpulkan orang-orang miskin sejumlah hari yang di situ ia tidak berpuasa. Lalu mereka diberi makan. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Anas bin Malik ra ketika ia menginjak usia senja. Atau dengan cara memberi makan tiap orang miskin dengan hari-hari ia tidak berpuasa. Tiap orang seperempat Sho’ atau setengah kilo dan sepuluh gram gandum yang baik kualitasnya atau makanan pokok lainnya. Dan sebaiknya disertai dengan lauk-pauk yang biasa ia makan seperti daging atau bumbu lain. Juga bagi orang tua yang tidak mampu melakukan puasa, hendaklah ia memberi makan setiap harinya satu orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah orang yang sakitnya masih dimungkinkan kesembuhannya seperti sakit panas dan yang sejenisnya. Untuk yang jenis ini ada tiga kondisi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Tidak berat baginya berpuasa dan tidak membahayakan sakitnya. Jika demikian dia wajib berpuasa karena penyakitnya ini tidak dikategorikan sebagai udzur.&lt;br /&gt;Kedua : Berat baginya berpuasa, namun kalau seandainya dia berpuasa itu tidak akan membahayakan penyakitnya. Jika demikian dia makruh hukumnya berpuasa karena dia melaksanakan rukhsoh (bukan lagi sebagai hal yang wajib pent.) dengan kondisi beratnya jiwa karena sakitnya tadi.&lt;br /&gt;Ketiga : Puasa itu membahayakan dirinya. Jika demikian maka haram hukumnya dia berpuasa karena  ada bahaya yang mengenai dirinya. Allah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan janganlah kamu sekalian membunuh diri-diri kalian karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu"&lt;/span&gt; (An-Nisa’:29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan janganlah kamu mencelakakan dirimu sendiri"&lt;/span&gt; (Al-Baqarah:195).&lt;br /&gt;Dalam hadits Rasulullah bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tidak ada bahaya dan tidak boleh ada yang membahayakan"&lt;/span&gt; (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim).&lt;br /&gt;Imam Nawawi berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hadits mempunyai banyak riwayat yang saling menguatkan satu dengan yang lain"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya puasa bagi orang yang sakit itu bisa diketahui dengan rasa dari si penderita atau dengan petunjuk dokter yang bisa dipercaya. Pada kondisi ini jika si penderita membatalkan puasanya, ia mengqodho’ puasanya jika telah sembuh dari sakitnya. Jika dia meninggal sebelum sempat mengqodho’, maka tidak ada qodho’ baginya karena yang asal adalah mengganti puasanya pada hari yang lain, sementara dia tidak bisa melakukan pada hari itu karena dipanggil Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai orang yang sedang bepergian (musafir) maka ada dua macam:&lt;br /&gt;Pertama : Orang yang dengan bepergiannya itu mempunyai niat untuk membatalkan puasanya. Untukyang seperti ini tidak boleh berbuka dengan alasan bepergian karena niat untuk tidak melakukan salah satu kewajiban yang telah digariskan oleh Allah itu tidak bisa menggugurkannya.&lt;br /&gt;Kedua : Bepergian yang tidak bermaksud seperti di atas. Untuk yang ini ada tiga macam konsisi:&lt;br /&gt;1) Berat sekali baginya berpuasa karena bepergian itu. Maka haram baginya berpuasa. Karena pada waktu perang Fathu Mekkah Rasulullah menjumpai seseorang yang sedang berpuasa. Diberitahukan kepada beliau bahwasanya banyak orang yang merasa berat puasanya. Mereka juga melihat bagaimana kepunyaan orang yang berpuasa tadi. Maka saat itu Rasulullah menyuruh untuk mengambil secawan air setelah tiba waktu Ashar. Orang yang berpuasa tadi meminumnya dan dilihat orang banyak. Dia berkata bahwa sebagian orang masih berpuasa. Maka Rasululullah bersabda:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Mereka itu berbuat maksiat, mereka itu berbuat maksiat"&lt;/span&gt; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;2) Puasa itu memberatkan baginya, namun tidak seberapa. Untuk kondisi itu makruh hukumnya dia berpuasa, karena dia berarti melaksanakan yang rukhshoh (keringanan) dengan kondisi berat.&lt;br /&gt;3) Tidak berat baginya berpuasa. Untuk kondisi ini dia bebas memilih untuk berpuasa ataumembatalkannya. Sebagaimana firman Allah: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran"&lt;/span&gt; (Al-Baqarah:185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Yuriidu" &lt;/span&gt;(menghendaki) di sini adalah "senang". Jika antara puasa dan berbuka sama kondisinya, maka puasa itu lebih baik baginya karena hal itu telah dilakukan oleh Rasulullah. Hal itu sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim dari Abi Dardah ra, berkata:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Kami keluar bersama Rasulullah, pada bulan Ramadhan di tengah panas terik matahari, sampaiAl-sampai salah seorang di antara kami tidak satu pun berpuasa, kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rowahah"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bepergian (musafir) terhitung sejak ia keluar dari kampungnya sampai dia kembali. Jika ia di sebuah kampung yang menjadi tujuan bepergiannya beberapa waktu lamanya, maka dia tetap seorang musafir selama dia tidak beminat muqim (menetap) di tempat itu sampai selesai tujuan bepergian di tempat itu lagi. Maka dia mendapatkan keringanan untuk melakukan rukhsah-rukhsah bepergian, meski dalam waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak riwayat Rasulullah akan batasan waktu yang mengharuskan orang itu berstatus bukan musafir. Dengan demikian yang asal adalah tetapnya safar dan hukum-hukumnya sampai adanya dalil yang meniadakan atau membatalkan hukumnya. Bepergian (safar) yang mendapatkan rukhsah ini tidak ada bedanya dengan safar seperti haji, umrah dan ziarah..... Dan safar yang terus-menerus seperti safar mereka yang menjadi sopir mobil besar lainnya. Kapan saja mereka keluar dari kampungnya, maka mereka berstatus sebagai musafir, boleh melakukan apa saja yang dibolehkan bagi musafir-musafir lain, seperti tidak berpuasa di bulan Ramadhan, mengqashar shalat dari empat&lt;br /&gt;raka’at menjadi dua raka’at, dan menjamak jika perlu antara dhuhur dan ashar, antara maghrib dan isya’. Tidak berpuasa itu lebih utama bagi mereka, jika mudah bagi mereka untuk mengqodho’nya di hari-hari yang lain. Ini dikarenakan sopir-sopir mobil itu mempunyai kampung yang mereka berintima’ (loyalitas) kepadanya. Oleh karena itu kapan saja mereka berada di kampung mereka, mereka berstatus sebagai muqim. Begitu juga bila mereka bepergian dari kampung mereka, maka mereka berstatus sebagai musafir dan berhak melakukan apa saja yang diperintahkan bagi orangorang musafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ZAKAT DAN FAIDAHNYA (MANFAATNYA).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat adalah merupakan salah satu faridhoh (kewajiban) dalam Islam, bahkan ia adalah salah satu rukun (pilar penyangga)nya setelah syahadat dan shalat. Wajibnya zakat ini didasarkan kepada kitab Allah, sunnah RasulNya dan ijma’ kaum muslimin. Barang siapa yang mengingkari wajibnya zakat ini, maka dia telah kafir dan murtad dari Islam, harus disuruh bertaubat. Jika tidak harus dibunuh. Dan barang siapa kikir atau mengurangi kadar kewajibannya, maka dia tergolong orang-orang yang dhalim dan berhak mendapat siksa dari Allah. Allah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Janganlah orang-orang yang bakhil terhadap karunia yang diberikan Allah kepadanya itu menduga bahwa sikap demikian itu baik baginya, sebaliknya kebakhilan itu buruk akibatnya. Nanti akan dikalungkan baginya harta benda yang mereka bakhilkan itu di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah warisan (segala yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan" &lt;/span&gt;(Ali Imran 180).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah ra berkata, telah bersabda Rasulullah:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barang siapa yang dikarunia Allah harta, kemudian tidak mau mengeluarkan zakatnya, pada hari kiamat nanti ia akan serupa dengan ular yang tercabut semua rambut kepalanya (botak) yang mempunyai dua ingus tebal (menempel di kedua pojok mulutnya). Kemudian kedua mulutnya menganga sambil berteriak ‘Aku adalah pemilik harta, aku adalah harta yang kau pendam’"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman yang artinya:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mengeluarkan zakatnya di jalan Allah, berilah peringatan dengan azab yang pedih. Pada hari itu emas dan perak yang ditumpukkan tadi dipanaskan dalam neraka jahannam, lalu disetrikakan pada dahi, rusuk dan punggung mereka. (Kepada mereka dikatakan): ‘Inilah harta benda yang kau simpan untuk dirimu, maka rasakanlah adzab dari harta yang kau simpan itu"&lt;/span&gt; (AT-Taubah:34-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Muslim Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tak satu pun para pemilik emas dan perak yang tidak ditunaikan haknya, kecuali di hari kiamat akan didatangkan batu-batu lebar dari mulut neraka, kemudian batu-batu itu dipanaskan di neraka jahannam, lalu disetrikakan di atas rusuk, dahi dan punggungnya. Setiap terasa agak dingin akan terus diulangi. (Itu terjadi) pada hari yang lamanya sama dengan lima puluh ribu tahun, sampai Allah memutuskan semua perkara pada hamba"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat mempunyai manfaat spritual (agama), moral dan sosial yang banyak sekali. Kami di sini akan menyebutkan beberapa diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MANFAAT SPRITUAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Zakat merupakan bentuk realisasi dari salah satu rukun Islam, yang merupakan kunci kebahagiaan hamba dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;2) Zakat merupakan sarana seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Rabbnya, untuk meningkatkan kualitas imannya. Nilainya sama dengan berbagai bentuk dan sarana ketaatan lainnya.&lt;br /&gt;3) Melaksanakan zakat akan memperoleh pahala yang besar. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Allah memusnahkan riba’ dan menghidupsuburkan shadaqah" &lt;/span&gt;(Al-Baqarah:276).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman:&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;"Dan apa yang kamu berikan sebagai tambahan (riba) untuk menambah harta manusia, maka riba itu tidak akan bertambah di sisi Allah. Dan yang kamu berikan berupa zakat demi mengharapkan keridhaan Allah, maka mereka (yang menunaikan zakat itu) melipatgandakan pahalanya"&lt;/span&gt; (Arrum: 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa bersedekah dengan sebiji kurma atau yang setara dengan itu dari hasil kerja yang baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, maka Allah akan mengambil sebiji kurma tadi dengan tangan kananNya kemudian mengembangsuburkan bagi pemiliknya sebagaimana salah seorang di antara kamu menumpuk tanah liat sampai seperti bukit"&lt;/span&gt; (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;4) Dengan zakat Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan sebagaimana Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Shadaqah itu bisa memadamkan kesalahan-kesalahan sebagaimana memadamkan api"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud shadaqah di sini adalah zakat dan shadaqah sunnah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MANFAAT MORAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dengan zakat seorang muzakki (yang berzakat) akan berjumpa dengan kafilah para dermawan yang mempunyai tenggang rasa dan perasaan kasih untuk memberi.&lt;br /&gt;2) Zakat akan membuahkan sifat (penyayang) dan lemah lembut bagi muzakki kepada saudarasaudara yang kekurangan. Dan orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang.&lt;br /&gt;3) Sebuah realita, bahwa mendermakan harta dan tenaga kaum muslimin itu akan melapangkan dada dan dimuliakan jiwa serta menjadikan seseorang itu dicintai dan dimuliakan oleh saudara-saudaranya sesuai dengan kadar yang didermakan itu.&lt;br /&gt;4) Dalam zakat ada sarana penyucian moralitas sang muzakki dari sifat bakhil dan kikir. Sebagaimana firman Allah: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ambillah sebagian dari harta-harta mereka sebagai shadaqah yang akan membersihkan dan mensucikan mereka"&lt;/span&gt; (At-Taubah:103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MANFAAT SOSIAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dalam zakat ada dorongan untuk memenuhi kebutuhan fakir miskin yang mereka ini termasuk mayoritas di sebagian besar negara.&lt;br /&gt;2) Zakat merupakan unsur kekuatan kaum muslimin dan peningkatan posisi mereka. Oleh karena itu salah satu sisi fungsionalisasi zakat adalah untuk jihad fi sabilillah.&lt;br /&gt;3) Zakat berfungsi untuk menghilangkan rasa dengki dan permusuhan yang ada adalah dada orangorang yang fakir dan kekurangan. Karena jika mereka melihat orang-orang kaya menikmati harta dan sama sekali tidak dimanfaatkan untuk mereka yang kekurangan sedikit atau banyak, maka kondisi ini akan memicu permusuhan dan dengki terhadap orang-orang kaya. Diantara mereka ini tidak menjaga hak fakir miskin dan tidak berusaha untuk turut memenuhi kebutuhan mereka. Nah, jika orang-orang&lt;br /&gt;kaya itu mendermakan hartanya setiap tahun, tentu kesenjangan seperti ini akan hilang dan berubah menjadi rasa cinta kasih dan persaudaraan.&lt;br /&gt;4) Dalam zakat ada budidaya harta dan memperbanyak berkah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwasanya Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tidaklah shadaqah itu mengurangi harta, yakni jika akan mengurangi dari segi kuantitas, maka ia tidak akan berkurang dari segi barokah dan akan bertambah pada masa yang akan datang, bahkan Allah akan menyediakan penggantinya dan memberikan berkah di dalamnya"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;5) Dalam zakat ada perluasan wilayah pendistribusian harta. Karena jika harta itu disedekahkan akan semakin luas wilayahnya, jangkauannya dan dimanfaatkan oleh orang banyak. Berbeda mana kala harta itu hanya berputar di kalangan orang-orang kaya saja, tentu orang-orang fakir tidak akan mendapatkan bagian apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari zakat ini semuanya menunjukkan bahwa zakat itu penting untuk mengikhlaskan (memperbaiki) individu dan masyarakat. Sungguh Maha Suci Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat itu wajib ditunaikan untuk harta-harta tertentu, seperti emas dan perak dengan syarat telah sampai nishabnya (batas minimal untuk mengeluarkan zakat). Diantara harta yang harus dikeluarkan zakatnya adalah perdagangan, yaitu apa saja yang diperdagangkan seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga, mobil, hewan dan perkakas sehari-hari serta komoditi-komoditi lainnya dari macammacam harta perdagangan. Adapun zakatnya dalah dua setengah persen (2,5 %). Maka hendaklah&lt;br /&gt;menghitung harta itu pada akhir tahun untuk dikeluarkan dua setengah persen-nya untuk zakat, baik lebih sedikit. lebih banyak atau sama dengan pembeliannya. Sedangkan harta yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan seperti perkakas rumah tangga dan mobil pribadi (yang tidak diperjualbelikan) maka tidak dikenakan zakat, sebagaimana sabda Rasulullah , yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Tidak ada (zakat) bagi seorang muslim dalam diri budak dan kudanya, akan tetapi wajib zakat untuk upah, jika telah memenuhi haul (genap satu tahun)".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jabrein.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-5594032894618558000?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/5594032894618558000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/fatwa-fatwa-tentang-puasa-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/5594032894618558000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/5594032894618558000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/fatwa-fatwa-tentang-puasa-2.html' title='FATWA-FATWA TENTANG PUASA (2)'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-4560022987540844848</id><published>2009-08-15T17:47:00.000+07:00</published><updated>2009-08-15T17:47:00.779+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FATWA'/><title type='text'>FATWA-FATWA TENTANG PUASA, 1</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Meski bulan Ramadhan setiap tahun mengunjungi umat Islam, tapi itu tidak menjamin semua hukum yang berkaitan dengan Ramadhan dipahami secara baik oleh umat Islam. Untuk itu, kami menurunkan fatwa-fatwa penting seputar puasa Ramadhan, bersumber dari terjemah Kitab FATAWA ASH. SHIYAM, oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin dan Syaikh Abdullah bin ABD. Rohman Al-Jabrein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Mengikuti !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HUKUM PUASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban yang jelas dalam kitab Allah, sunnah Rasulnya dan Ijma’ kaum muslimin. Allah berfirman yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertaqwa (dalam) beberapa hari yang ditentukan. Maka barang siapa yang sakit diantara kamu atau sedang dalam keadaan bepergian, hendaklah ia menggantinya pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang udzur (sehingga ia tidak kuat berpuasa), maka hendaklah ia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin. Barang siapa yang bersedia membayar lebih, maka itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Puasa itu), dalam bulan ramadhan, menjadi petunjuk bagi manusia, memberi&lt;br /&gt;penjelasan petunjuk-petunjuk itu dan menjadi furqon (pemisah antara yang haq dan yang bathil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang mengetahui sudah masuk bulan Ramadhan maka hendaklah ia berpuasa.&lt;br /&gt;Barangsiapa sakit atau dalam keadaan bepergian, ia boleh mengganti puasanya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesusahan. Hendaklah kamu mencukupkan bilangan hari puasa dan me-Maha Besarkan Allah, karena Dia telah menunjuki kamu sekalian menjadi orang-orang yang bersyukur" (Al-Baqarah:183-185).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dibangun Islam itu atas lima perkara, Syahadat bahwa tidak ada yang disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, Haji Baitullah dan puasa ramadhan" (Muttafaq alaihi). Dan dalam riwayat Muslim: "Puasa ramadhan dan Haji ke Baitullah".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu kaum muslimin berijma’ (bersepakat) akan wajibnya puasa Ramadhan. Maka barang siapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertaubat. Kalau mau bertaubat dan mau mengakui kewajiban syari’at tadi maka dia muslim kembali. Jika tidak, dia harus dibunuh karena kekafirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan wajib bagi setiap muslim yang telah aqil baligh dan berakal sehat. Maka puasa tidak wajib atas orang kafir dan tidak akan diterima pahalanya jika ada yang melakukannya sampai dia masuk Islam. Puasa juga tidak wajib atas anak kecil sampai dia aqil baligh. Aqil balighnya ini diketahui ketika dia telah masuk usia 15 tahun atau tumbuh rambut kemaluannya atau keluar sperma ketika mimpi. Ini bagi anak laki-laki, sementara bagi anak perempuan ditandai dengan haid (menstruasi). Maka jika anak telah mendapati tanda-tanda ini, maka dia telah aqil baligh. Tetapi&lt;br /&gt;dalam rangka sebagai latihan dan pembiasaan baiknya seorang anak disuruh untuk berpuasa, jika kuat dan tidak membahayakannya. Puasa juga tidak wajib bagi orang yang kehilangan akal baik itu karena gila atau penyakit syaraf atau sebab lainnya. Berkenaan dengan inilah jika ada orang yang telah menginjak dewasa namun masih tetap idiot dan tidak berakal sehat, tidak wajib baginya berpuasa dan tidak pula menggantinya dengan membayar fidyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HIKMAH dan FAEDAH (MANFAAT) PUASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara nama-nama Allah adalah bahwa Allah itu "Al-Hakim" (Maha Bijaksana dan penuh&lt;br /&gt;hikmah). Hikmah adalah profesionalisme dalam berbagai perkara dan meletakkan sesuai dengan tempatnya. Maka nama Allah ini mengandung tuntunan makna bahwa setiap apa yang diciptakan oleh Allah atau apa yang disyari’atkan olehNya, maka itu demi sebuah hikmah yang balighoh, akan diketahui oleh orang yang mengetahui (berilmu) dan tidak akan diketahui oleh orang yang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaum yang disyari’atkan dan difardhukan oleh Allah kepada hamba-hambanya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Diantara hikmah puasa adalah bahwa puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri untuk mendapatkan ridho Rabbnya dan keberuntungan di kampung kemuliaannya (kampung akhirat. pent-). Dengan puasa ini jelas bahwa seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Rabbnya daripada kesenangan-kesenangan pribadinya. Lebih cinta kampung akhirat daripada kehidupan dunia. Hikmah puasa yang lain adalah bahwa puasa adalah sarana untuk menghadapi derajat taqwa apabila seseorang melakukannya dengan sesungguhnya (sesuai dengan syari’at). &lt;br /&gt;Allah berfirman yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan&lt;br /&gt;atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" &lt;/span&gt;(Al-Baqarah:183).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpuasa berarti diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakanperintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Inilah tujuan agung dari diisyaratkannya puasa. Jadi bukan hanya sekedar melatih untuk meninggalkan makan dan minum serta menggauli istri.&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan kata-kata kotor dan mengerjakannya serta tidak bisa meninggalkan kebodohan, maka tidak ada perlunya bagi Allah (untuk memberi pahala) karena ia telah meninggalkan makan dan minumnya" &lt;/span&gt;(HR. Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata kotor adalah setiap perkataan yang haram hukumnya, seperti berkata dusta, ghibah, mencela dan sejenisnya. Sementara amalan yang kotor adalah setiap perbuatan yang haram seperti permusuhan sesama manusia, dengan berkhianat, menipu, memukul, mencuri harta dan sejenisnya. Termasuk pula mendengarkan apa saja yang haram untuk didengarkan seperti lagu-lagu haram, musik yang itu semuanya alat-alat yang melalaikan. Kemudian yang dimaksud kebodohan adalah menjauhi kebenaran dalam kata dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau orang yang berpuasa mampu merealisasikan kandungan ayat Allah dan hadits nabi ini, maka puasanya akan mampu menjadi tarbiyah bagi jiwanya, perbaikan bagi akhlaqnya dan pelurusan perilakunya. Tidaklah bulan Ramadhan itu akan usai kecuali ia mendapatkan pengaruh positif yang luar biasa yang akan nampak dalam diri, moral dan perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah puasa yang lain adalah seorang kaya akan mengetahui nilai nikmat Allah dengan&lt;br /&gt;kekayaannya itu dimana Allah telah memudahkan baginya untuk mendapatkan apa yang&lt;br /&gt;diinginkannya, seperti makan, minum dan menikah serta apa saja yang dibolehkan oleh Allah dengan syar’i. Allah telah memudahkan baginya untuk itu. Maka dengan begitu ia akan bersyukur kepada Rabbnya atas karunia nikmat ini dan mengingat saudaranya yang fakir, yang ternyata tidak dimudahkan untuk mendapatkannya. Dengan begitu ia kan berderma kepadanya dalam bentuk shadaqah dan ikhsan (berbuat baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hikmah puasa juga melatih seseorang untuk mengusai dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya demi kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat serta menjauhi sifat kebinatangan. Orang yang mempunyai sifat ini tidak akan mampu untuk mengendalikan jiwanya dan syahwat serta kelezatan dunia. Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan&lt;br /&gt;mebahayakan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;YANG MERUSAK dan MEMBATALKAN PUASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang membatalkan itu ada enam tujuan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jima’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud jima’ di sini adalah masuknya dzakar (penis laki-laki) ke dalam farji wanita. Maka kapan saja orang yang berpuasa melakukan jima’, sementara sedang melakukan puasa wajib, dia harus menebusnya dengan membayar kaffarat yang berat karena perbuatan itu. Yakni dengan memerdekakan budak. Kalau dia tidak mampu, harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu harus memberi makan enam puluh orang miskin. Jika puasa yang dilakukan itu tidak wajib baginya, seperti seorang musafir yang menggauli istrinya, maka dia harus mengqadha’ dan tidak membayar kaffarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Keluarkan sperma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni keluarnya sperma karena berkencan, mencium, bergumul dan sejenisnya. Jika orang mencium istrinya tetapi tidak mengeluarkan sperma, maka itu tidak apa-apa (tidak batal puasanya. pent-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Makan dan Minum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni sampainya makanan dan minuman ke dalam kerongkongan, baik dari jalan mulut atau hidung, makanan dan minuman apa saja. Oleh karena itu tidak boleh bagi orang yang berpuasa menghisap rokok, karena rokok itu sendiri adalah dosa, sedangkan mencium bau-bau yang wangi itu tidak apaapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Keluarnya Darah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni keluarnya darah karena berbekam atau yang sejenisnya, yang keluarnya itu memang disengaja dan cukup mempengaruhi kondisi tubuh. Sedangkan keluar darah itu ringan (sedikit) karena untuk pemeriksaan misalnya atau sejenisnya, maka itu tidak dibatalkan puasa. Karena hal itu tidak mempengaruhi tubuh, tidak seperti pengaruh yang ditimbulkan dari berbekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Muntah-muntah dengan sengaja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yakni mengeluarkan apa yang ada dalam perut dari makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Keluarnya darah haid atau nifas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang membatalkan puasa ini tidak sampai menyebabkan seseorang yang berpuasa harusberbuka kecuali dengan tiga syarat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Mengetahui hukum dan waktunya.&lt;br /&gt;Kedua: Dalam kondisi ingat (tidak lupa).&lt;br /&gt;Ketiga: Memahami betul akan permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika ada seorang yang berbekam, kemudian tidak menyangka kalau berbekam itu dapat membatalkan puasanya, dia tidak usah membatalkan puasanya dan puasanya itu sah. Karena pada hakekatnya ia tidak mengetahui hukum yang sesungguhnya. Allah berfirman yang artinya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan tidak tidak ada dosa bagimu karena kekhilafanmu tapi (yang menjadikan dosa) adalah apa yang disengaja hatimu" &lt;/span&gt;(Al-Ahzab:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya ada seorang yang makan sementara ia menyangka bahwa fajar belum terbit atau matahari telah terbenam, maka puasanya sah karena ia tidak mengetahui waktu. Kemudian jika ada orang yang makan dan lupa bahwa pada saat itu ia berpuasa, maka sah puasanya dan tidak perlu membatalkan, sebagaimana sabda Rasulullah yang artinya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barang siapa yang lupa dalam keadaan berpuasa, kemudian makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah lah yang memberinya makan dan minum (saat itu)" &lt;/span&gt;(Muttafaq alaihi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang dipaksa untuk berkumur, kemudian tanpa sengaja air itu ada yang masuk ke perutnya, atau meneteskan air mata kemudian ada yang sampai ke kerongkongan, atau bermimpi sampai mengeluarkan sperma, maka puasanya tetap sah karena itu semua di luar kehendaknya. Demikian pula tidak batal puasanya seseorang yang memakai siwak, bahkan itu sunnah baik di waktu puasa atau waktu-waktu lainnya pada setiap awal siang dan akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SHALAT TARAWIH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tarawih adalah shalat qiyamullail dengan berjama’ah pada bulan Ramadhan. Waktunya setelah shalat Isya’ sampai terbitnya fajar. Rasulullah telah memberikan rangsangan untuk melakukannya dalam sebuah sabda beliau yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada bulan Ramadhan dengan dasar keimanan dan&lt;br /&gt;menghitung-hitungkan (akan pahalanya). Dia akan diampuni dosa-dosanya yang lampau"&lt;/span&gt; (HR.Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahih Bukhari dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah suatu ketika melakukan qiyamullail di masjid. Maka pada saat itu banyak orang yang mengikuti shalat beliau, kemudian juga kabilahkabilah yang lain, sehingga jumlah mereka banyak sekali. Kemudian pada malam ke tiga atau ke empat sebagaimana biasa mereka berkumpul (hendak melakukan shalat. pent-) namun Rasulullah tidak keluar untuk shalat bersama mereka. Ketika pagi tiba beliau bersabda yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sesungguhnya aku telah mengetahui apa yang telah kalian perbuat. Tidak ada yang menghalangiku keluar (untuk shalat) bersama kalian kecuali saya khawatir (kalian menganggap) shalat itu diwajibkan atas kalian".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat di atas dilakukan pada bulan Ramadhan. Dan yang sesuai dengan sunnah adalah shalat itu dilaksanakan dengan sebelas raka’at, tiap dua raka’at salam. Karena Aisyah ra ketika ditanya bagaimana shalatnya Rasulullah pada bulan Ramadhan, dia menjawab:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Beliau (rasulullah) tidak pernah menambah atas sebelas raka’at pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya"&lt;/span&gt; (Muttafaq alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Al-Muwaththa’ dari Muahammad bin Yusuf (seorang perawi yang kuat dan bisa&lt;br /&gt;dipercaya) dari As-Saaib bin Yazid bahwasanya Umar bin Khattab ra menyuruh Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Daary untuk melakukan shalat bersama berjama’ah dengan sebelas raka’at. Jika menambah jumlah dari yang sebelas ini maka tidak apa-apa karena Rasulullah ditanya tentang Qiyamullail, beliau menjawab, yang artinya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dua-dua, maka jika salah satu seorang diantara kamu khawatir tiba waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu raka’at sebagai witir dari shalatnya"&lt;/span&gt; (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi berpegang teguh dengan jumlah raka’at yang dijelaskan oleh sunnah dengan penuh ketenangan dan memanjangkan shalat yang tidak memberatkan jama’ah yang lain, lebih utama dan lebih sempurna. Ada pun apa yang saat ini dilakukan sebagian orang, yakni mempercepat shalat yang berlebihan, maka itu bertentangan dengan syari’at. Apalagi dengan cepat itu merusak rukun wajibnya, maka yang semacam ini dapat membatalkan shalat. Banyak para imam (pemimpin) yang tidak mau hadir shalat tarawih (dia shalat sendiri di rumah. pent-). Ini salah karena seharusnya imam itu tidak hanya shalat untuk dirinya saja akan tetapi juga untuk orang lain. Maka posisi imam di sini bak seorang pemimpin masyarakat yang harus melakukan sesuatu yang lebih mendatangkan mashlahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ‘ulama juga menyebutkan bahwa hukumnya makruh bagi seorang imam yang mempercepat&lt;br /&gt;shalatnya, hingga menghalangi makmum untuk melakukan amalan yang sunnah. Ini amalan yang sunnah, bagaimana jika seorang imam mempercepat shalatnya sampai menghalangi makmum berbuat yang wajib? Dianjurkan bagi para jama’ah untuk menjaga dan memelihara shalat tarawih ini, jangan sampai mentelantarkannya dengan berganti-ganti masjid (tidak teratur sampai meninggalkan jama’ah. pent-) karena barang siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, akan dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk, kendati setelah itu dia tidur. Tidak menjadi masalah jika kaum wanita hadir, turut melakukan shalat tarawih jika aman dari fitnah. Dengan syarat keluar dari rumah menuju masjid dengan hijab sempurna dan tidak tabarruj (bersolek) dengan menggunakan perhiasan dan wangi-wangian.(FSA)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-4560022987540844848?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/4560022987540844848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/fatwa-fatwa-tentang-puasa-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/4560022987540844848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/4560022987540844848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/fatwa-fatwa-tentang-puasa-1.html' title='FATWA-FATWA TENTANG PUASA, 1'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-840902590182808007</id><published>2009-08-10T11:23:00.000+07:00</published><updated>2009-08-10T11:23:00.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Rahasia Syetan</title><content type='html'>Dikisahkan Nabi Yahya as bertemu dengan iblis yang sedang membawa sesuatu barang. Kepada iblis Nabi Yahya menanyakan untuk apa barang itu? Iblis menjawab, barang itu syahwat untuk memancing anak cucu Adam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adakah dalam diriku sesuatu yang dapat engkau pancing?" tanya Nabi Yahya. Jawab Iblis, "Tidak ada. Hanya pernah terjadi pada suatu malam, engkau makan agak kenyang, dan kami dapat menarikmu sehingga engkau merasa berat mengerjakan shalat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, aku tidak akan makan terlalu kenyang lagi selama hidupku," kata Nabi Yahya. "Wow, sungguh menyesal sekali kami buka rahasia ini. Mulai saat ini, kami tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapapun," iblis menyambung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang dinukil dari kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al-Ghazali tersebut, setidaknya dapat dipetik sebagai pelajaran berkaitan dengan isi perut. Bahwa untuk menjaga perut agar tidak terlalu kenyang, apalagi yang tercampur dengan barang haram dan syubhat, bukan hal yang sederhana. Karena bukan hal sederhana, maka manfaat dan ganjaran yang didapat tidak kecil. Dituntut kemampuan mengendalikan hawa nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah syetan gemar mendorong manusia menikmati makanan-minuman seenak dan sebanyak mungkin. Tetapi syetan juga mengarahkan kita mendekati barang-barang syubhat, untuk menceburkan kita ke dalam hal yang haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali menguraikan bahaya yang timbul oleh perut yang kelewat kenyang dan mengkonsumsi barang haram/syubhat, seperti dikutip berikut ini: . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Terlalu banyak makan dan minum dapat membuat badan terasa berat, lesu, sifat malas, dan perilaku iseng. Juga ingin selalu melihat hal-hal haram, yang tidak bermanfat, dan berlebihan. Akal, pikir dan pengetahuan pun menjadi sempit. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebanyakan makan akan menyebabkan manusia malas dalam menjalankan ibadah. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebanyakan makan juga akan menjerumuskan pada perbuatan syubhat dan haram. Sedangkan makanan haram dan syubhat menjadi penghalang bagi datangnya taufik dan hidayah dari Allah swt. Perut yang dipenuhi makanan yang haram dan syubhat juga akan menjadikan si pemiliknya terhalang berbuat kebaikan. Malas berkecimpung pada hal-hal yang mengandung kemaslahatan, untuk diri dan orang lain. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan halal yang kita konsumsi pada hakikatnya adalah bekal untuk beribadah. Bila porsi itu sudah terpenuhi, lalu melewati batas itu, berarti pemborosan yang berarti berkawan dengan syaithonirrajim. Semoga kita berkemampuan menghindarinya. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu tidak datang kepadamu melainkan sebagai bekal. Dan yang haram datang kepadamu dengan melimpah." . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun makanan itu halal, tidak menjadi alasan untuk menikmati dengan tak terkendali. Beliau saw mengatakan, "Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal. Sebab hati ibarat tumbuh-tumbuhan, jika terlalu banyak disiram ia akan mati." . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Abu Ja'far menasihatkan, perut jika lapar membuat seluruh anggota badan tidak banyak menuntut dan merasa tenteram. Tetapi jika kenyang, maka anggota tubuh lainnya menjadi lapar, banyak tuntutannya. . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita mampu menjaga perut dari hal-hal yang merugikan masa depan kita, dunia dan akhirat. ( Hidayatullah, edisi Maret 2001 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-840902590182808007?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/840902590182808007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/rahasia-syetan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/840902590182808007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/840902590182808007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/rahasia-syetan.html' title='Rahasia Syetan'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-267568633640520941</id><published>2009-08-05T11:21:00.000+07:00</published><updated>2009-08-05T11:21:00.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Hikayat Iblis : Dialog Iblis vs Rasulullah SAW</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, "Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat), &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?" Maka jawab Nabi dengan marah, "Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga, Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akibat hasutanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taklimat Iblis, "Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah aku berani menyembunyikannya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, "Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku menjadi abu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada seluruh umatku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (1):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, "Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (2):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (3): &lt;br /&gt;"Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain aripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid'ah dan carut-marut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (4):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (5):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya - matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (6):&lt;br /&gt;"Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (7):&lt;br /&gt;"Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (8):&lt;br /&gt;"Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasa." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (9):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar - besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: "Seluruh sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a'zam. Bahkan engkau sendiri telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, "Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku", karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar 'Al-Faruq'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, "Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar 'Ali Karamullahu Wajhahu' - dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga 'Harimau Allah' dan engkau sendiri berkata, "Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya." Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (10):&lt;br /&gt;"Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibril a.s, "Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat." Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (11):&lt;br /&gt;"Siapa yang serupa dengan engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (12):&lt;br /&gt;"Siapa yang mencahayakan muka engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (13):&lt;br /&gt;"Apakah rahasia engkau kepada umatku?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (14):&lt;br /&gt;"Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (15):&lt;br /&gt;"Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu', maka padamlah marahnya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (16):&lt;br /&gt;"Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (17):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka (mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya', aku beratkan hatinya untuk sholat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (18):&lt;br /&gt;"Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (19):&lt;br /&gt;"Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Nabi (20):&lt;br /&gt;"Apa lagi yang memecahkan mata engkau?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Iblis:&lt;br /&gt;"Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, 'Syurga itu di bawah tapak kaki ibu'" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-267568633640520941?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/267568633640520941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/hikayat-iblis-dialog-iblis-vs.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/267568633640520941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/267568633640520941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/08/hikayat-iblis-dialog-iblis-vs.html' title='Hikayat Iblis : Dialog Iblis vs Rasulullah SAW'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-8355035572600428719</id><published>2009-07-31T11:18:00.000+07:00</published><updated>2009-07-31T11:18:00.510+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>EKSISTENSI MALAIKAT</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolong­kan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau infor­masi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar). &lt;br /&gt;Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jibril &lt;/span&gt;(Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel). Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mikail &lt;/span&gt;(Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Izrail &lt;/span&gt;(Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Israfil. &lt;/span&gt;Meniup sangkakala pertanda hari kiamat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Raqib. &lt;/span&gt;Mencatat amal baik manusia. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atid. &lt;/span&gt;Mencatat amal buruk manusia. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Munkar dan &lt;br /&gt;Nakir. &lt;/span&gt;Menanyai manusia yang baru wafat. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ridwan.&lt;/span&gt; Menjaga surga. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Malik. &lt;/span&gt;Menjaga neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk meyakini dan mengimani keber­adaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara. &lt;br /&gt;Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibukti­kan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara etimologis (lughawiy), kata “malaikah” yang dalam bahasa Indonesia disebut “malaikat,” adalah bentuk jamak dari kata “malak,” berasal dari mashdar “al-alukah” yang berarti ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut “ar-rasul” (utusan). Dalam beberapa ayat Al-Qur`an, malaikat juga disebut dengan “rusul” (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud 69. Bentuk jamak lainnya dari kata “malak” adalah “mala`ik.” Dalam bahasa Indonesia, kata “malaikat” bermakna tunggal (satu malaikat), bentuk jamaknya menjadi “malaikat-malaikat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terminologis (isthilahiy), makaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang penciptaan malaikat, Rasulullah SAW menginformasikan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur), berbeda dengan jin yang diciptakan dari api (nar): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kapan waktu penciptaannya, tidak ada penjelasan yang rinci. Tapi yang jelas, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS) sebagaimana yang disebutkan oleh ­Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 30: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (Al Baqarah 30). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca­indera, kecuali jika malaikat menampil­kan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia, seperti: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucap­kan: Selamat. Ibrahim menjawab: Selamatlah, maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (Hud 69 70). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Maryam 16 17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW –disaksikan oleh sahabat sahabat beliau, antara lain Umar bin Khaththab– dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah (Kiamat). Setelah malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah engkau siapa yang ber­tanya tadi. Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang mengajarkan ad diin kepada kalian.” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam se­mesta yang kita saksikan ini. Yang menge­tahui hakikat wujudnya hanyalah Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada per­bedaan dan tingkatan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Allah menyebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus” (HR. Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam men­ja­lankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena –seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya– malaikat adalah makhluk gaib (immaterial) yang hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. (Sumber majalah Tabligh &amp; Isnet)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lamu bis-shawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-8355035572600428719?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/8355035572600428719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/eksistensi-malaikat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8355035572600428719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8355035572600428719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/eksistensi-malaikat.html' title='EKSISTENSI MALAIKAT'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-4098329235699961125</id><published>2009-07-26T11:14:00.001+07:00</published><updated>2009-07-26T11:14:00.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Hikmah Diciptakannya Setan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kisah-kisah misteri/mistik marak sekali ditayangkan di televisi kita. Hampir setiap malam pemirsa disuguhi kisah dan cerita misteri/mistik dalam bentuk dan cara yang berbeda-beda. Seolah-olah 'kisah dunia lain itu lebih penting dari dunia nyata yang kita hadapi sehari-hari dengan susah payah karena keterpurukan bangsa ini di segala bidang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penayangan kisah-kisah misteri dan mistik ini sudah sangat berlebihan, sangat mengganggu dan mempengaruhi jiwa masyarakat. Saking keterlaluannya sampai mengundang keprihatinan para ulama dan para tokoh nasional. Mereka telah menghimbau dan melayangkan surat supaya insan pertelevisian kita menghentikan tayangan-tayangan tersebut, tetapi tampaknya tidak digubris. Buktinya penayangan kisah-kisah misteri itu malah makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dikaitkan dengan peran setan, agaknya ini adalah salah satu daya upaya setan untuk merusak akidah umat manusia, agar manusia lebih takut kepada setan daripada kepada Allah, dan agar manusia mengabdi kepada setan demi kejayaan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa Itu Setan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia&lt;/span&gt; (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan &lt;/span&gt;(QS. 2 : 36/4 : 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menggoda manusia, setan dari bangsa jin itu masuk ke dalam diri manusia, membisikkan sesuatu yang jahat dan membangkitkan nafsu yang rendah (syahwat). Selain menggoda dari dalam diri manusia, setan juga menjadikan wanita, harta, tahta, pangkat dan kesenangan duniawi lain sebagai umpan (perangkapnya, Dihiasinya Kesenangan duniawi itu dihiasinya sedemikian menarik hingga manusia tergoda, terlena, tertutup mata hatinya, lalu memandang semua yang haram jadi halal. Akhirnya manusia terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan/ kemungkaran. Maka manusia yang telah mengikuti ajakan setan, menjadi hamba setan, dalam al-Quran juga disebut setan (QS. 38 : 37-38) dan golongan (partai) mereka juga disebut golongan setan (hizbusy-syaithan - QS. 58 : 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik setan dari bangsa jin maupun dari bangsa manusia terus menerus berupaya untuk menyesatkan manusia. mereka bahu rnembahu untuk menyebarkan kemungkaran dan kemaksiatan. Mereka kuasai berbagai media, termasuk televisi, mereka sebarkan kisah-kisah misteri dan kemaksiatan demi uang dan kesenangan duniawi tanpa peduli umat manusia rusak atau tidak akidahnya dan akhlaknya. Itulah sumpah setan di hadapan Allah untuk menggoda manusia dari berbagai sudut yang bisa mereka masuki. (QS, 7:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mudharat Tayangan Setan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam sangat jelas bahwa penayangan seperti itu diharamkan, karena: Pertama, tayangan mistik seperti itu mempersubur kemusyrikan, membuat manusia lebih takut kepada setan, khurafat dan tahyul daripada takut kepada Allah. Padahal tidak ada yang bisa memberi manfaat dan mudharat di dunia ini kecuali hanya Allah (QS. 39 : 38), tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Kedua, tayangan mistik seperti itu adalah bentuk pembodohan masyarakat, hanya membuat bangsa semakin jumud dan terbelakang. Ketiga, tayangan seperti itu sarat dengan praktek perdukunan. Dengan maraknya penayangan kisah-kisah mistik, maka praktek-praktek perdukunan juga semakin marak. Sedangkan perdukunan juga diharamkan dalam Islam. Dan keempat, rezeki yang dihasilkan dari usaha yang diharamkan, maka rezeki itu juga haram dan tidak diberkahi Allah. Oleh karenanya penayangan kemusyrikan itu mestilah dihilangkan karena tidak ada manfaatnya selain mudharat dunia-akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hikmah Diciptakannya Setan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Quran menjelaskan, Allah SWT menciptakan alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, satu pun tidak ada yang batil atau sia-sia (QS Ali Imran : 191). Oleh karena itu Allah menciptakan iblis atau makhluk yang disebut setan Itu, bila dilihat dari sisi nilai ibadah, pada hakikatnya juga ada hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Ghazali pernah menyatakan; jika ingin melihat kesalahan/kelemahan kita, carilah pada sahabat karib kita, karena sahabat kitalah yang tahu kesalahan/ kelemahan kita. Jika kita tidak mendapatkannya pada sahabat kita, carilah pada musuh kita, karena musuh kita itu paling tahu kesalahan/kelemahan kita. Sifat musuh adalah selalu mencari kelemahan lawan untuk dijatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula setan. la selalu mencari kesalahan/kelemahan orang-orang beriman untuk kemudian digelincirkan dengan segala macam cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika kita telah mcngetahui kesalahan/kelemahan kita, entah dari kawan, lawan, bahkan dari setan, lalu kita memperbaiki diri, insya Allah kita akan menjadi orang baik dan sukses. Jadi, kalau kita berpikir positif, ada juga hikmahnya setan itu buat orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Lebih rinci, di antara hikmah dicipta-kannya setan ialah :&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Untuk menguji keimanan dan komitmen manusia beriman terhadap perintah Allah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan diuji (QS. 29:2). Jika dengan godaan setan seorang mukmin tetap istiqamah dengan keimanannya, maka derajatnya akan ditinggikan oleh Allah dan hidupnya akan bahagia. Tetapi jika ia tergoda dan mengikuti ajakan setan, derajatnya akan jatuh, hina kedudukannya dan dipersulit hidupnya oleh Allah. (QS. 41 : 30-31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Menguji keikhlasan manusia beriman dalam mengabdi kepada Allah,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menciptakan jin dan manusia tidak lain supaya mereka mengabdi kepada-Nya (QS. 51 : 56). Kemudian setan datang menggoda manusia, membangkit-bangkitkan syahwat kepada kenikmatan duniawi, rnembisikkan ke dalam hatinya angan-angan kosong dan keraguan, supaya manusia lupa terhadap tujuan dan tugas hidupnya di dunia. Jika manusia tetap sadar akan tujuan dan tugas hidupnya di dunia, dia akan tetap ridha menjadi hamba Allah dan mengabdi kepada-Nya. Terhadap hamba Allah seperti ini, setan tidak akan rnampu menggodanya (QS. 15 : 40). Tetapi jika manusia tergoda, pada gilirannya ia akan menjadi hamba setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;3. Untuk meningkatkan perjuangan di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebab tanpa ada setan yang memusuhi kebenaran, maka tidak akan ada semangat perjuangan (jihad) untuk mempertahankan kebenaran. Sedangkan jihad di jalan Allah juga merupakan bukti penting manusia beriman dan ridha sebagai hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;4. Allah hendak memberi pahala yang lebih besar kepada para hamba-Nya. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semakin besar godaan setan kepada manusia dan dia mampu menghadapinya dengan baik, maka semakin besar pahalanya di sisi Allah (QS. 3 : 195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;5. Agar manusia waspada setiap saat, selalu memperbaiki kesalahan, meningkatkan kualitas ibadah dengan bertaqarrub kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena setan senantiasa mengintai kelengahan manusia. Sekejap saja manusia lengah, setan akan masuk, lalu mengacaukan hati dan syahwat. Tapi orang yang selalu waspada, akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga setan tidak punya kesempatan untuk mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagi orang yang sudah kuat imannya, gangguan setan itu tidak akan merusak ibadahnya. tetapi malah mempertinggi kualitas iman dan ibadahnya. Masalahnya, tayangan-tayangan setan yang makin marak di televisi, tidak ditonton oleh mereka yang telah kuat imannya, melainkan oleh masyarakat dari berbagai lapisan umur dan kadar iman yang terbanyak masih memerlukan bimbingan. Bagi mereka ini, tayangan-tayangan itu sangat kontra produktif, bahkan bisa mendangkalkan iman mereka. Apakah ini tidak terpikirkan oleh insan pertelevisian kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-4098329235699961125?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/4098329235699961125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/hikmah-diciptakannya-setan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/4098329235699961125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/4098329235699961125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/hikmah-diciptakannya-setan.html' title='Hikmah Diciptakannya Setan'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-1565290536055909942</id><published>2009-07-20T11:05:00.000+07:00</published><updated>2009-07-20T11:05:00.180+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>SIHIR, PARANORMAL DAN PRAKTEK PERDUKUNAN DALAM ISLAM</title><content type='html'>Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat spiritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Dari data yang ada, sekitar 149 tayangan misteri di TV kita. Di kantor terkumpul jimat dari harga yang terendah Rp 100 dan termahal Rp 1 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia sihir dan perdukunan erat kaitannya dengan dunia jin dan setan, karenanya pada kesempatan ini perlu kiranya kita menyimak pandangan Islam tentang dunia jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Islam Mengenai Jin dan Setan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sumber kita dalam mengenal masalah ghaib. Setiap informasi tentang yang ghaib selain dari keduanya harus kita tolak, kecuali yang selaras dengan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman:&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Allah menciptakan jin dan manusia untuk satu tujuan yakni mengabdi kepada Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jin diciptakan dari percikan api neraka sebelum manusia diciptakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. 55:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Iblis adalah keturunan jin yang membangkang dari perintah Allah, Dia bukan golongan malaikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat:"Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim. (QS. 18:50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Syetan adalah sebutan bagi pembangkang dari golongan jin dan manusia, sebagai musuh dari setiap orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jin adalah ummat seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang mukmin dan ada yang kafir, agama mereka berbeda-beda, tetapi mereka harus tetap mengikuti syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. 72:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Jin bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak bisa melihat jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jin tidak dapat menampakkan diri kepada manusia, tetapi jika yang muncul sejenis sesuatu yang menakutkan seperti kuntilanak, genderuwo, dsb maka itu adalah setan yang ingin menakut-nakuti manusia tapi bukan asli jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. 72:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Setiap manusia diikuti oleh dua qarin dari jin dan dari malaikat. Qarin dari malaikat selalu membisikkan kebaikan, sebaliknya qarin dari jin selalu membisikkan kejelakan dan kejahatan. Sedangkan qarin dari jin yang mendampingi Rasulullah Saw telah masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah salah seorang dari kalian, kecuali telah didampingi oleh qarinnya dari golongan jin dan malaikat. Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga ya Rasulullah/” Rasulullah menjawab, “Demikian juga dengan saya. Tetapi Allah telah membantu saya atasnya. Maka dia masuk Islam. Dan ia tidak memerintahkan saya kecuali dalam kebaikan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Memohon perlindungan kepada jin adalah haram, seperti minta perlindungan terhadap dirinya, kesehatannya, keselamatannya, hartanya, rumahnya, kantornya, kebunnya, kenadaraannya, jabatannya, usahanya, agamanya, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. 72:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Jin bisa merasuk ke dalam jasad manusia dan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya syaitan itu mengalir dari tubuh manusia melalui jalan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Syetan atau jin pembangkang tidak akan mampu menguasai orang yang beriman dan selalu bertawal kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. 16:99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan syirik, mereka mendapat jaminan keamanan dan jaminan petunjuk dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Gangguan jin terhadap manusia dengan merasuk ke dalam jasadnya adalah tindakan zhalim. Terapinya adalah dengan cara membersihkan keimanannya, meluruskan ibadahnya dengan memperbanyak dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Terapi secara syar’i adalah bagian dari jihad fi sabilillah melawan syaitan maka kita haruslah tetap istiqamah di atas jalan yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. 35:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. 4:76)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah makalah yang sederhana ini, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar dan menjaga kemurnian aqidah kita. (ikadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-1565290536055909942?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/1565290536055909942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/sihir-paranormal-dan-praktek-perdukunan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/1565290536055909942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/1565290536055909942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/sihir-paranormal-dan-praktek-perdukunan.html' title='SIHIR, PARANORMAL DAN PRAKTEK PERDUKUNAN DALAM ISLAM'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-3590702285243800105</id><published>2009-07-15T11:07:00.001+07:00</published><updated>2009-07-15T11:07:00.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>ILMU LADUNI</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ Barang siapa yang menjadikan kisah nabi Khidir as &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;dengan nabi Musa as sebagai alasan untuk menggantikan wahyu dengan ilmu laduni –sebagaimana pendapat orang- orang yang tidak mendapatkan taufik dari Allah-, maka orang itu adalah atheis dan zindiq, karena sesungguhnya nabi Musa as tidaklah diutus kepada nabi Khidir as, dan nabi Khidir pun tidak diperintahkan untuk mengikuti nabi Musa as “ &lt;/span&gt;( Ibnu Abdul Izz Al Hanafi) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahmad Zein MA,Cairo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita akan memperluaskan sedikit pembahasan tentang Ilmu laduni ini, karena semakin banyak orang Islam yang mengaku telah memiliki ilmu aneh ini, kemudian membuat kekacauan dikalangan umat Islam. Sehingga, perlu bagi seorang muslim yang ingin menjaga aqidahnya untuk mengetahui hakekat ilmu laduni tersebut. Disana ada beberapa pertanyaan : Mungkinkah ilmu laduni ini bisa dicari ? Apakah ilmu ini merupakan pemberian Allah kepada orang-orang tertentu, sehingga tidak semua orang bisa memilikinya ? Apakah orang yang memiliki ilmu ini sudah sampai derajat keimanan yang sangat kuat, sehingga dibolehkan meninggalkan sebagian kewajibannya sebagai orang muslim, sebagaimana diyakini oleh sebagian orang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan tersebut insya Allah akan terjawab dalam tulisan di bawah ini &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menelurusi hakikat ilmu Laduni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita buka lembaran Al Quran, ternyata hanya ada satu tempat yang menyebutkan “ ilmu laduni “ secara jelas, yaitu di dalam surat Al Kahfi ayat 65. Walaupun harus diakui, ada ayat-ayat lain yang mungkin mencakup pembahasan ilmu laduni ini, tetapi secara tidak langsung. Allah berfirman menceritakan nabi khidhir as. : &lt;br /&gt;“ Maka mereka berdua ( Nabi Musa dan pembantunya ) mendapatkan seorang hamba dari hamba-hamba Kami ( yaitu nabi khidir), yang telah Kami anugrahi rohmat dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami ( Allah ). “ &lt;/span&gt;( QS. Al Kahfi; 65 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas adalah dasar pembahasan ilmu laduni, bahkan salah satu ayat yang dijadikan referensi utama oleh kelompok tertentu untuk membenarkan keyakinan mereka yang sesat. Mereka menjadi sesat karena menafsirkan ayat tanpa ada dasar keilmuan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat diatas menyebutkan lafadh “ Ladunna “( huruf akhir adalah “ a”) , yang berarti : “&lt;span style="font-style:italic;"&gt; dari sisi Kami ( Allah ) “&lt;/span&gt; , Ilmu Ladunna berarti ilmu dari sisi Allah. Yang kemudian berkembang dan menjadi ilmu Ladunni ( pakai huruf “ i “). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita belum mengetahui secara pasti, mulai kapan istilah ilmu laduni itu muncul, ( walaupun sebenarnya bisa diprediksikan muncul setelah abad ke 3 hijriah, bersamaan dengan munculnya kelompok-kelompok sempalan dalam Islam ) . Tapi yang jelas, ilmu laduni dinisbatkan pertama kalinya kepada Nabi Khidhhir as. Karena memang teks ayat diatas berkenan dengan cerita Nabi Khidhir as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu laduni-nya Nabi Khidhir menurut surat Al Kahfi – difokuskan pada satu masalah saja, yaitu pengetahuan tentang masa depan, walau secara rinci digambarkan dalam tiga peristiwa, yaitu merusak kapal yang sedang berlabuh di pinggir pantai, membunuh anak kecil yang ditemukan di tengah jalan, dan memperbaiki dinding yang mau roboh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita padukan antara ilmu laduni dengan ketiga peritiswa di atas, akan kita dapati benang merah yang menghubungkan antara keduanya, yang konklusinya sebagai berikut : Ilmu laduni adalah ilmu yang bersumber dari Allah swt ( dan Allah sajalah Yang memegang kunci-kunci alam ghoib ), sedang inti dari ilmu laduni yang dimiliki Nabi Khidhir as adalah pengetahuan tentang masa depan yang nota benenya adalah ilmu ghoib , berarti ilmu laduni yang diajarkan kepada nabi Khidhir adalah ilmu ghoib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, kalau kita katakan bahwa Khidhir as adalah seoran Nabi - dan ini adalah pendapat yang benar -, maka Allah telah mengajarkan kepada Nabi Khidhir sebagian ilmu ghoib, dan ini wajar-wajar saja, karena salah satu ciri khas wahyu adalah pengetahuan tentang sebagian ilmu ghoib. Dan hal ini hanya dimiliki oleh para nabi dan utusan Allah atau orang-orang yang dikehendaki Allah swt, sebagaimana yang termaktub di dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ Dia-lah 9 Allah ) Yang mengetahui ghoib dan Dia tidak memperlihatkan tentang yang ghoib tersebut kepada siapapun juga. Kecuali kepada para Rosul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga ( Malaikat ) di muka dan di belakangnya “ &lt;/span&gt;( QS. Jin : 26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring dengan berjalannya waktu, istilah ilmu laduni menjadi berkembang artinya. Yaitu setiap orang yang mempunyai kelebihan yang aneh-aneh ( yang diluar kewajaran manusia ), mereka menganggapnya mempunyai ilmu laduni. Seperti kalau kita melihat seseorang berjalan diatas air, atau mengetahui kejadian pada masa yang akan datang , atau dia bisa masuk batu dan selamat dari kepungan musuh atau bisa melihat sesuatu kemudian menjadi hancur dan lain-lainnya. Bukan hanya itu saja, orang yang bisa menghafal sesuatu dengan cepat, atau mampu menjawab pertanyaan- pertanyaan dalam ujian, tanpa kelihatan dia belajar sebelumnya, sering di klaim, telah memiliki ilmu laduni. Maka jika sekarang, ada orang yang tiba-tiba mengaku mempunyai ilmu laduni, bisa nggak kita mempercayainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita harus merinci dahulu permasalahannya, pada point-point di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kalau yang dia maksudkan ilmu laduni seperti yang dimiliki nabi Khidir as, atau sejenisnya, maka kita tidak boleh mempercayainya sama sekali, karena itu hanya dimiliki oleh para nabi. Kalau dia mengakui memilikinya, sama saja kalau dia mengaku mendapatkan wahyu dari langit atau dengan kata lain dia mengaku nabi, karena yang didapat nabi Khidir tidak lebih dari pada sebuah wahyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang mungkin bisa mengetahui ilmu ghoib dengan perantara Jin atau syetan. Karena Jin dan syetan sering mencuri pendengaran tentang hal-hal ghoib dari langit. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al Hijr : 17-18, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan Kami jaga langit-langit tersebut dari syetan yang terlaknat, kecuali mereka yang mencuri pendengaran ( dari hal-hal yang ghoib ) , maka dia akan dikejar oleh batu api yang nyata “ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat – ayat senada juga bisa dilihat di dalam surat As Shoffat :10 dan surat Jin: 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tapi kalau yang dia maksudkan ilmu laduni adalah ilmu-ilmu kanuragan ( ilmu kesaktian ) yang ia dapatkan dengan latihan-latihan tertentu, seperti bertapa di tengah sungai selama 40 hari 40 malam, atau puasa selama 40 hari berturut-turut, atau dengan hanya makan nasi putih saja tanpa lauk dalam jangka waktu tertentu atau dengan cara-cara lain yang sering dikerjakan orang. Maka kita akan teliti dahulu, apakah cara-cara seperti itu pernah diajarkan oleh Rosulullah saw dan para sahabatnya atau tidak ? Kalau jawabannya tidak, berarti dia mendapatkan ilmu tersebut dengan meminta bantuan dari jin dan syetan. Sebagaimana kita banyak dapati sebagian orang bisa kaya mendadak dengan meminta bantuan Jin dan Syetan. Perbuatan seperti ini dilarang oleh Islam, sebagaimana firman Allah didalam surat Jin : 6 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“ Dan sesungguhnya ada diantara manusia yang meminta perlindungan dari segolongan Jin , maka segolongan Jin itu hanya aka menambah kepada mereka kesusahan. “ &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita dapati banyak orang pada zaman sekarang yang memelihara Jin untuk memperoleh kekayaan dengan cepat, akhirnya dia menjadi “ tumbal” jin yang ia pelihara. Jin itu memangsa tuannya sendiri. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika ilmu laduni tersebut dia dapatkan dengan bertaqwa kepada Allah dengan menjalankan perintah- perintahNya serta menjauhi segala larangan-Nya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rosulullah saw, maka kita harus percaya kepadanya, tetapi tidak kita sebut ilmu laduni, kita sebut karomah atau ilham atau firasat, menurut jenis kelebihan yang ia punyai. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah : 282&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ …dan bertaqwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu …” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah di dalam surat Al Hijr : 75&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan sesungguhnya pada peristiwa tersebut ( hancurnya kaum Luth ) merupakan tanda bagi orang- orang yang mempunyai firasat “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak dalil –dalil lain yang menyebutkan adanya istilah-istilah tersebut dalam ajaran Islam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu di garis bawahi, bahwa orang yang punya kelebihan tersebut tidak akan mengaku- ngaku atau mengumumkan ilmu yang ia miliki di depan umum , kecuali kalau ada maslahat dibalik pemberitahuannya, sehingga dengan terpaksa dia memberitahukan ilmunya itu kepada orang lain. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa catatan penting &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu penulis tambahkan disini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Yang pertama :&lt;br /&gt;Bahwa nabi Khidir as tidak diutus kepada nabi Musa as. , sehingga nabi Musa harus mengikuti ajaran nabi Khidir &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Yang kedua : &lt;br /&gt;Nabi khidir as,– menurut sebagian para ulama- diutus kepada kaum tertentu, sebagaimana nabi Musa as hanya diutus kepada Bani Israil. Dan suatu hal yang sangat wajar sekali, apabila di satu zaman ada dua nabi atau lebih. Buktinya ? Dalam surat Yasin ayat 13-14, Allah berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Berikan ( wahai Muhammad ) kepada mereka sebuah permitsalan para penduduk suatu negri , ketika datang kepada mereka para utusan Allah . Ketika Kami utus kepada mereka 2 orang rosul, maka mereka mendustakan keduanya, maka Kami perkuat dengan rosul yang ketiga, mereka berkata ; “ Sesungguhnya kami adalah utusan Allah kepada kamu sekalian “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang lain adalah nabi Ibrohim, Ismail, Ishaq dan nabi Luth mereka hidup dalam satu zaman. Begitu juga nabi Daud dan Sulaiman, nabi Ya’qub dan Yusuf , nabi Musa , Harun dan Syu’aib, dan terakhir nabi Zakaria, Isa dan Yahya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Yang ketiga :&lt;br /&gt;Nabi Khidir as juga bukan pengikut nabi Musa as dan tidak diperintahkan untuk mengikutinya, sehingga boleh-boleh saja bagi nabi Khidir as, berbuat tidak seperti apa yang diajarkan nabi Musa as, karena setiap nabi mempunyai manhaj dan syareah yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah itu datang orang Islam “ yang nyleneh ” mengaku sebagai wali Allah dan mempunyai ilmu laduni , sehingga membolehkan dirinya keluar – atau tidak mengikuti syareah yang di bawa nabi Muhammad saw.( Na’udzibillahi mindzalik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan dia, yang namanya nabi Isa as saja, nantinya kalau turun ke bumi lagi untuk membunuh Dajjal, akan ikut dan patuh dengan syareat nabi Muhammad saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Ibnu Abdil Izz al Hanafi :&lt;br /&gt;“ Barang siapa yang menganggap dirinya dengan nabi Muhammad saw sebagaimana nabi Khidir as, dengan nabi Musa as, atau membolehkan orang lain mengerjakan seperti itu( artinya membolehkan orang lain untuk mbalelo dari ajaran Islam ) maka hendaklah dia memperbaharuhi keislamannya , dan mengucapkan syahadat sekali lagi dengan penuh kesungguhan. Karena dengan perbuatannya itu , dia telah keluar dari Islam …..dia bukannya wali Allah , tetapi sebenarnya dia adalah wali syetan. Inilah yang membedakan antara orang- orang zindiq dengan orang-orang yang istiqomah di dalam ajaran Islam, maka perhatikan baik-baik “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4 ) Yang terakhir :&lt;br /&gt;Nabi Khidir as, menurut pendapat yang benar , telah mati sebagaimana manusia lainnya akan mati. Dalilnya sebagaimana firman Allah di dalam QS Al Anbiya ‘ : 34-35 , : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dan Kami ( Allah ) tidak menjadikan seorang manusia-pun sebelum kamu ( wahai Muhammad) abadi, maka apabila engkau mati, apakah mereka akan abadi ??. Setiap jiwa akan merasakan kematian. Dan Kami akan menimpakan kepada kamu sekalian kejelekan dan kebaikan sebagai ujian bagi kamu. Dan kepada Kami-lah kamu sekalian akan dikembalikan . “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : al-ukhuwah.com&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedia Islam : Ilmu Laduni &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan yang diperoleh seseorang yang saleh dari Allah SWT melalui ilham dan tanpa dipelajari lebih dahulu melalui suatu jenjang pendidikan tertentu. Oleh sebab itu, ilmu tersebut bukan hasil dari proses pemikiran, melainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan karunia Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tasawuf dibedakan tiga jenis alat untuk komunikasi rohaniah, yakni kalbu (hati nurani) untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai-Nya dan bagian yang paling dalam yakni sirr (rahasia) untuk musyahadah (menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT secara yakin sehingga tidak terjajah lagi oleh nafsu amarah) kepada-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dianggap memiliki hubungan misterius dengan jantung secara jasmani, kalbu bukanlah daging atau darah, melainkan suatu benda halus yang mempunyai potensi untuk mengetahui esensi segala sesuatu. &lt;br /&gt;Lapisan dalam dari kalbu disebut roh; sedangkan bagian terdalam dinamakan sirr, kesemuanya itu secara umum disebut hati. Apabila ketiga organ tersebut telah disucikan sesuci-sucinya dan telah dikosongkan dari segala hal yang buruk lalu diisi dengan dzikir yang mendalam, maka hati itu akan dapat mengetahui Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan akan melimpahkan nur cahaya keilahian-Nya kepada hati yang suci ini. Hati seperti itu diumpamakan oleh kaum sufi dengan sebuah cermin. Apabila cermin tadi telah dibersihkan dari debu dan noda-noda yang mengotorinya, niscaya ia akan mengkilat, bersih dan bening. Pada saat itu cermin tersebut akan dapat memantulkan gambar apa saya yang ada dihadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga hati manusia. Apabila ia telah bersih, ia akan dapat memantulkan segala sesuatu yang datang dari Tuhan. Pengetahuan seperti itu disebut makrifat musyahadah atau ilmu laduni. Semakin tinggi makrifat seseorang semakin banyak pula ia mengetahui rahasi-rahasia Tuhan dan ia pun semakin dekat dengan Tuhan. Meskipun demikian, memperoleh makrifat atau ilmu laduni yang penuh dengan rahasia-rahasia ketuhanan tidaklah mungkin karena manusia serba terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT tanpa batas, seperti dikatakan oleh Al-Junaid, seorang sufi modern, "Cangkir teh tidak akan dapat menampung segala air yang ada di samudera." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan dan status ilmu laduni bukan tanpa alasan. Para sufi merujuk keberadaan ilmu ini pada Alquran (QS Al Kahfi [18]:60-82) yang memaparkan beberapa episode tentang kisah Nabi Musa AS dan Khidir AS. Kisah tersebut dijadikan oleh para sufi sebagai alasan keberadaan dan status ilmu laduni. Mereka memandang Khidir AS sebagai orang yang mempunyai ilmu laduni dan Musa AS sebagai orang yang mempunya pengetahuan biasa dan ilmu lahir. Ilmu tersebut dinamakan ilmu laduni karena di dalam surah al-Kahfi ayat 65 disebutkan: "wa'allamnahu min ladunna 'ilman.." (..dan yang telah Kami ajarkan kepadanya (Khidir AS) ilmu dari sisi Kami). Dengan demikian ilmu yang diterima langsung oleh hati manusia melalui ilham, iluminasi (penerangan) atau inspirasi dari sisi Tuhan disebut ilmu laduni. ( yus/RioL) &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-3590702285243800105?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/3590702285243800105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/ilmu-laduni.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/3590702285243800105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/3590702285243800105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/ilmu-laduni.html' title='ILMU LADUNI'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-8974998400962291843</id><published>2009-07-10T17:11:00.000+07:00</published><updated>2009-07-10T17:11:00.246+07:00</updated><title type='text'>The Islam Awareness Blog: Islam Bashers want to distribute literature at our events</title><content type='html'>&lt;a href="http://theislamawareness.blogspot.com/2009/06/islam-bashers-want-to-distribute.html#comment-form"&gt;The Islam Awareness Blog: Islam Bashers want to distribute literature at our events&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-8974998400962291843?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/8974998400962291843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/islam-awareness-blog-islam-bashers-want.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8974998400962291843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8974998400962291843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/islam-awareness-blog-islam-bashers-want.html' title='The Islam Awareness Blog: Islam Bashers want to distribute literature at our events'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-8415981431676428714</id><published>2009-07-05T17:08:00.000+07:00</published><updated>2009-07-09T12:22:16.186+07:00</updated><title type='text'>WAHYU DAN NABI MUHAMMAD</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah Islam kita akan melihat jejak risalah Nabi Muhammad, sifat dan kaitannya dengan ajaran para nabi terdahulu. Allah swt. menciptakan umat manusia dengan satu tujuan agar menghambakan diri kepada-Nya, meski la tidak memerlukan seseorang agar menyembah karena tidak akan menambah arti kebesaran-Nya. Tata cara penyembahan tidak diserahkan pada individu, namun secara eksplisit dijelaskan oleh para nabi dan rasul-Nya. Melihat bahwa semua rasul menerima tugas dari Pencipta yang sama, inti risalah tetap sama saja, hanya beberapa penjelasan praktis yang mengalami perubahan. Nuh (Noah), Ibrahim (Abraham), Isma'il (Ishamel), Ya'cub (Jacob), Ishaq (Isaac), Yusuf (Joseph), Dawud (David), Sulaiman (Solomon), `Isa (Jesus), dan banyak lagi yang tak terhitung, Allah mengutus dengan risalah yang ditujukan kepada masyarakat tertentu dan berlaku pada masa tertentu pula. Dalam perjalanan mungkin saja terjadi penyimpangan yang membuat pengikutnya menyembah berhala, percaya pada klenik dan khurafat, dan melakukan upaya pemalsuan. Kehadiran Nabi Muhammad, dengan risalah yang tidak tersekat dalam batas kebangsaan dan waktu tertentu, suatu kepercayaan yang tidak akan mungkin dihapus karena untuk kepentingan umat manusia sepanjang zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam menganggap kaum Yahudi dan Nasrani sebagai "ahli kitab". Ketiga agama ini memiliki kesamaan asal usul keluarga dan secara hipotesis menyembah tuhan yang sama, seperti dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan kedua putranya, Isma'il dan Ishaq. Berbicara masalah agama, tentu kita dihadapkan pada peristilahan yang umum kendati kata-kata itu tampak mirip, bisa jadi memiliki implikasi yang berlainan. Misalnya, Kitab suci Al-Qur'an menjelas¬kan secara rinci bahwa segala sesuatu di alam ini diciptakan untuk satu tujuan agar menyembah Allah, tetapi dalam mitologi Yahudi semua alam ini dicipta¬kan untuk menghidupi anak cucu bani Israel saja.1 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, nabi-nabi ban! Israel dianggap terlibat dalam membuat gambaran tuhan-tuhan palsu (Aaron) dan bahkan dalam skandal perzinaan (David), sedangkan Islam menegaskan bahwa semua nabi-nabi memiliki sifat kesalehan. Sementara, konsep trinitas dalam agama Kristen-dengan anggapan Jesus seperti terlihat dalam gambaran ajaran gereja sama sekali bertentangan dengan keesaan Allah dalam ajaran Islam. Kita akan paparkan sifat kenabian dalam ajaran Islam yang akan jadi dasar utama adanya perbedaan nyata antara Islam dan kedua agama itu yang mengalami pencemaran dari konsep monoteisme dan akan kita jelaskan bahwa Allah  menentukan ajaran ideal untuk seluruh alam raya dalam bentuk wahyu terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1 . Pencipta dan Beberapa Sifat-Nya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa kita tidak menciptakan diri kita sendiri dan tak ada makhluk mana pun yang mampu menciptakan dirinya dari sesuatu tanpa wujud perantara. Untuk itu, Allah  . menjelaskan dalam kitab suci Al-Qur'an, &lt;br /&gt;"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?"2&lt;br /&gt;Semua makhluk berasal dari Sang Pencipta,&lt;br /&gt;"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala se¬suatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu."3 &lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."4&lt;br /&gt;Allah sebagai Pencipta adalah Mahaunik dan tidak ada menyerupai-Nya. Dia tiada dilahirkan clan satu-satunya Tuhan,&lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Dialah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia'."5 &lt;br /&gt;Dia Maha Pemurah, Pengasih, dan Penyayang. Dia membalas semua kebaikan dan menerima tobat orang yang benar-benar menyesali perbuatannya. la memberi ampunan pada siapa yang ia Kehendaki clan tidak akan memberi ampunan pada setiap menyekutukan-Nya clan akan mati dalam keadaan dosa yang tak terampuni.&lt;br /&gt;"Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Se¬sungguhnya Allah mengampuni dosa-2 semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”6&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;i.	Tujuan Penciptaan Manusia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Allah mencipta manusia semata-mata agar menghambakan diri kepada-Nya, &lt;br /&gt;"Dan Aku tidak menciptakan jin &amp; manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."8 &lt;br /&gt;Dengan memberi makan, air minum, tempat tinggal, reproduksi keturun¬an, dan banyak lagi lainnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia, me¬nurut Islam, dapat ditransformasikan sebagai amal 'ibadah jika disertai niat memberi pelayanan terhadap Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ii.	Jejak Risalah Para Nabi &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam jiwa manusia, Allah meniupkan sifat naluri yang mengantarkan penghambaan kepada-Nya sejauh tidak ada campur tangan pihak luar.9 Guna mengatasi kemungkinan adanya pengaruh luaran, Allah swt. mengutus para rasul dari masa ke masa agar terhindar dari penyembahan berhala atau pun khurafat dan membimbing manusia pada penyembahan yang benar.&lt;br /&gt; "....dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."10 &lt;br /&gt;Allah sebagai Sang Pencipta membersihkan para utusan-Nya dari segala bentuk perilaku jahat serta memberi kebaikan budi. Mereka sebagai model per¬contohan dan memerintahkan semua pihak agar mengikuti jejak kepe¬mimpinannya dalam menghambakan diri pada Allah swt.. Esensi risalahnya tak mengenal batas waktu sepanjang sejarah.&lt;br /&gt; "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'.“11 &lt;br /&gt;Semua risalah para nabi adalah,&lt;br /&gt; "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada-Ku."12&lt;br /&gt;Ungkapan singkat "tiada tuhan melainkan Allah"adalah kata kunci yang menyatukan semua para nabi sejak Nabi Adam hingga Muhammad. Kitab AI¬Qui an menyebut tema ini berulang kali meminta perhatian khususnya Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;2. Rasul Terakhir&lt;br /&gt;Di daerah tandus lagi panas, Mekah, Nabi Ibrahim pernah bermimpi bahwa seorang dari bangsa Nomad akan tinggal di lembah tandus itu yang akan menggembirakan Sang Pencipta:&lt;br /&gt; "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (AI-Qur'an) dan Al-Hikmah (As¬Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."13 &lt;br /&gt;Dan waktu yang telah ditentukan, di tempat yang tandus ini, Allah mengabulkan doa yang disemburkan Nabi Ibrahim lahirnya nabi terakhir untuk seluruh kemanusiaan.&lt;br /&gt; "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."14&lt;br /&gt;"Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi pe¬ringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui."15&lt;br /&gt;"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."16 &lt;br /&gt;Sebagaimana yang Allah kehendaki, tibalah seorang penggembala kam¬bing buta huruf diberi tugas menerima, mengajar, dan menyebarkan wahyu hingga berakhirnya sejarah: suatu beban yang lebih berat dari apa yang telah diberikan pada para rasul sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lihat kutipan pada permulaan bab-bab ke-14 dan 15. &lt;br /&gt;2. Qur'an, 52: 35.&lt;br /&gt;3. Qur'an, 6: 102.&lt;br /&gt;4. Qur'an, 95: 4.&lt;br /&gt;5. Qur'an, 112: 1-4&lt;br /&gt;6. Qur'an, 39: 53.&lt;br /&gt;7. Qur'an, 4: 48. &lt;br /&gt;8. Qur'an, 51: 56.&lt;br /&gt;9. Hal ini dijelaskan dari hadith Nabi yang berbunyi, "Tiada seorang pun yang lahir namun diciptakan pada sifat yang sebenarnya (Islam). Adalah kedua orang tua yang membuatnya menjadi Yahudi atau Kristen atau Majusi..."(Muslim, Sahih, diterjemahkan ke dalam Bahsa Inggris oleh Abdul Hamid Siddiqi, Sh. M. Ashraf, Kashmiri Bazar - Lahore, Pakistan, hadith no. 6423).&lt;br /&gt;10. Qur'an, 17:15. &lt;br /&gt;11. Qur'an, 21:25&lt;br /&gt;12. Qur'an, 26:108. Lihat juga pada surah yang sama pada ayat-ayat seperti no. 110, 126, 131, 144, dan 150.&lt;br /&gt;13. Qur'an 2: 129 &lt;br /&gt;14. Qur'an 33: 40. &lt;br /&gt;15. Qur'an 34: 28. &lt;br /&gt;16. Qur'an 21:107.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-8415981431676428714?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/8415981431676428714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/wahyu-dan-nabi-muhammad.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8415981431676428714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8415981431676428714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/wahyu-dan-nabi-muhammad.html' title='WAHYU DAN NABI MUHAMMAD'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-8458559402050916197</id><published>2009-07-01T17:03:00.000+07:00</published><updated>2009-07-03T19:01:06.009+07:00</updated><title type='text'>SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Arab Pra-Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Kondisi Geo-Politik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arab. Letaknya yang dekat persimpangan ketiga benua, semenanjung Arab menjadi dunia yang paling mudah dikenal di alam ini. Dibatasi oleh Laut Merah ke sebelah barat, Teluk Persia ke sebelah Timur, Lautan India ke sebelah selatan, Suriah dan Mesopotamia ke utara, dahulu merupakan tanah yang gersang tumbuh-tumbuhan di Pegunungan Sarawat yang melintasi garis pantai sebelah barat. Meski tidak banyak perairan, beberapa sumbernya terdapat di bawah tanah yang membuat ketenangan dan sejak dulu berfungsi sebagai urat nadi permukiman manusia dan kafilah-kafilah. &lt;br /&gt;Semenanjung Arabia dihuni sejak hari-hari pertama dalam catatan sejarah. Sebenarnya penduduk teluk Persia telah membangun negara perkotaan, city-state, sebelum abad ketiga S.M.1 Para ilmuwan menganggap wilayah tersebut sebagai tempat kelahiran suku bangsa Semit, meski sebenarnya tak ada kata mufakat di antara mereka. Istilah Semit mencakup: Babilonia (pendapat Von Kremer, Guide, dan Hommel);2 semenanjung Arabia (Sprenger, Sayce, De Goeje, Brockelmann, dan lain-lain);3 Afrika (Noldeke dan lain-lain);4 Amuru (A.T. Clay);5 Armenia (John Peaters);6 bagian sebelah selatan semenanjung of Arabia (John Philby);7 dan Eropa (Ungnand).8 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, menyebut, &lt;br /&gt;"Kendati istilah semit muncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bangsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa. Orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen¬catatan sejarah."9 &lt;br /&gt;Hampir semua hipotesis asal-usul kesukuan lahir dari kajian di bidang bahasa mengambil sumber informasi dari Kitab Perjanjian Lama,10 yang kebanyakan tidak bersifat ilmiah serta didukung oleh bukti sejarah yang akurat. Misalnya, Kitab Perjanjian Lama memasukkan bangsa lain yang pada hakikat¬nya bukan bangsa Semit seperti Alamite dan Ludim, di waktu yang sama tidak mengikutsertakan beberapa bangsa Semit lain seperti Funisia dan Kanaan.11 Melihat pendapat yang beragam, saya lebih cenderung menerima bahwa kaum Semit muncul dari kalangan bangsa Arab. Menjawab pertanyaan siapa sebenarnya bangsa Semit dan siapa yang bukan, Bangsa Arab dan Israel memiliki keturunan asal usul serumpun melalui Nabi Ibrahim.12 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ii. Nabi Ibrahim dan Kota Mekah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang ditetapkan dalam sejarah, Allah memberi karunia kepada Nabi Ibrahim seorang putra, Isma'il, pada usia lanjut. Ibunya, Siti Hajar, seorang hamba yang dihadiahkan Pharos kepada Sarah. Kelahiran Isma'il membuat Sarah cemburu luar biasa di mana ia meminta agar Ibrahim memutus hubungan persaudaraan wanita tersebut dengan putranya.13 Melihat adanya perselisihan dalam keluarga, ia membawa Siti Hajar dan Isma'il ke tanah Mekah yang tandus, lembah yang amat panas dan tak berpenduduk, serta ke¬kurangan makanan dan minuman. Saat mulai tinggal, Siti Hajar melempar pan¬dangan pada tanah kosong yang ada di sekelilingnya dengan perasaan tak menentu disertai pertanyaan kepada Ibrahim apakah ia telah meninggalkan mereka. la tak menjawab. Lalu ia bertanya adakah ini perintah Allah? Ibrahim lalu mengiyakan. Mendengar jawaban itu ia berkata, "Jika demikian halnya, Tuhan tak akan membuat kita sia-sia." Pada akhirnya, air Zamzam menyembur dari dalam tanah gersang membasahi kaki si kecil, Isma'il. Mata air itulah yang membuat tempat itu sebagai permukiman yang dihuni pertama kali oleh kabilah Jurhum.14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim, saat mengunjungi putranya, memberi tahu tentang sebuah pandangan pemikiran:&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim dan Isma'il menerima perintah ketuhanan guna membangun tempat suci pertama di muka bumi sebagai tempat menyembah Allah, &lt;br /&gt;Bakkah sebuah ungkapan kata lain dari kota Mekah, dari atas batu itulah ayah dan putranya memusatkan perhatian pada pembangunan Ka'bah yang suci dengan sikap ketakwaan seorang yang telah menghadapi cobaan yang sangat berat dan mampu menghadapinya karena `inayah Allah. Setelah menyelesaikan bangunan itu, Nabi Ibrahim lalu berdoa,&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian doa yang disemburkan mulai membuahkan hasil dan Mekah tidak lagi terpencil; kehidupan semakin berkembang dengan adanya tempat suci Allah, air zamzam, dan penduduknya mulai menuai kesuburan. Kemudian menjadi pusat lintas perdagangan ke Suriah, Yaman, Ta'if, dan Najd,18 dan penyebab utama di mana dari masa ke masa, para kaisar dari Aellius Gallus hingga Nero ingin menyebarkan pengaruh di persinggahan penting kota Mekah dengan mencurahkan segala upaya guna mencapai tujuan tersebut.19 &lt;br /&gt;Tampaknya terdapat pula gerakan kependudukan lain di semenanjung Arab. Perlu dicatat, di sana terdapat para pengungsi bangsa Yahudi, beberapa abad kemudian, memperkenalkan agamanya pada masa pengasingan orang¬orang Babilonia. Mereka kemudian menetap di Yathrib (Madinah sekarang), Khaebar, Taima', dan Fadak pada tahun 587 sebelum masehi dan tahun 70 Masehi.20 Suku bangsa Nomad terus mengalami perubahan. Suku bangsa Tha 'liba dari keturunan Qahtan juga tinggal di Madinah. Di antara anak cucu keturunan mereka adalah kabilah Aws dan Khazraj, yang kemudian ke duanya lebih dikenal sebagai kaum al-Ansar'21 (pendukung utama Nabi Muhammad). banu Harithah, yang kemudian dikenal sebagai banu Khuza'a, tinggal di Hejaz menggantikan penduduk sebelumnya, banu Jurhum,22 yang kemudian menjadi pemelihara Baitullah atau Ka'bah di Mekah. Merekalah yang harus memikul tanggung jawab karena melahirkan sistem keberhalaan.23 Bani Lakham, kabilah lain dari Qahtan, menetap di Hira (Kufa, sekarang Irak) di mana mereka mendirikan sebuah negara kecil sebagai penahan antara Jazirah Arabia dan Persia (200-602 masehi).24 Bani Ghassan menetap di Suriah sebelah bawah dan mendirikan kerajaan Ghassan, sebuah negeri penahan antara Byzantin dan Arab, yang berakhir hingga tahun 614 masehi.25 Bani Tay menduduki daerah pegunungan Tayy sedang ban! Kinda menetap di pusat Arab.26 Gambaran secara umum dari semua kabilah tersebut merupakan jalur keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma'il.27 &lt;br /&gt;Bab ini tidak dimaksudkan hendak memberi gambaran tentang kota Mekah sebelum Islam, sekadar pendahuluan akan adanya hubungan nenek moyang anggota keluarga Nabi Muhammad. Untuk mempersingkat, saya akan mengungkap dan melacak kelahiran Qusayy, para kakek Nabi Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;iii. Qusayy Sebagai Penguasa Kota Mekah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad  Qusayy. dikenal sebagai orang yang amat cerdas, perkasa serta memiliki kemampuan administrasi yang tinggi dan mencuat dalam jajaran pentas politik kota Mekah. Mengambil faedah dari kepentingan Byzantin di Mekah waktu itu, la minta pertolongan mereka dalam menguasai kota Mekah dengan mengesampingkan pengaruh Byzantin dengan tidak menghiraukan kepentingan wilayah mereka.28 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qusayy menikahi Hubba bint Hulail, putri kepala Suku Khuza'i di Mekah; kematiannya memberi peluang menaiki tahta kekuasaan dan menye¬rahkan pemeliharaan kota Mekah pada anak cucu keturunannya.30 Kabilah Quraish terpencar ke seluruh wilayah yang pada akhirnya semua memasuki kota Mekah dan menyatu di bawah komando kepemimpinannya.31 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;iv. Mekah: Sebuah Masyarakat Kabilah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski disebut sebagai kota negara, city-state, Mekah tetap merupakan masyarakat kesukuan hingga akhir penaklukannya pada masa Nabi Muhammad. Sistem kependudukan masyarakat dibangun menurut kabilah dimana anak-anak dari satu suku dianggap saudara yang memiliki pertalian hubungan darah. Seorang Arab tidak akan dapat memahami pemikiran negara kebangsaan melainkan dalam konteks sistem kesukuan (kabilah), &lt;br /&gt;"Adalah hubungan negara kebangsaan yang mengikat keluarga ke dalam kesukuan,sebuah negara yang didasarkan pada hubungan darah daging seperti halnya negara kebangsaan yang dibangun di atas garis keturunan. Adalah hubungan kekeluargaan yang mengikat semua individu ke dalam negara dan kesatuan. Hal ini dianggap sebagai agama kebangsaan dan hukum perundangan-undangan yang telah mereka sepakati."32 &lt;br /&gt;Setiap anggota merupakan asset seluruh kabilah di mana munculnya se¬orang penyair kenamaan misalnya, ahli perang pemberani, orang terkenal dalam kebaikan dalam satu kabilah, akan membuat kehormatan dan nama baik seluruh garis keturunannya. Di antara tugas utama tiap pendukung kesukuan adalah mempertahankan bukan saja terhadap anggotanya melainkan setiap mereka yang secara sementara seperti tamu-tamu yang hadir di bawah bendera kabilah. Memberi proteksi pada mereka merupakan suatu kehormatan yang dicapai. Oleh karena itu, kota Mekah sebagai kota kenegaraan selalu siap menyambut setiap pendatang menghadiri perayaan, melakukan ibadah haji,33 atau pun sekadar lewat dengan rombongan berunta. Memberi pelayanan permintaan ini memerlukan keamanan dan fasilitas yang memadai, dan, oleh karena itu institusi kemudian dibangun di kota Mekah (di mana beberapa di antaranya oleh Qusayy sendiri):34 seperti Nadwa (lembaga perkotaan), Mashura (dewan nasihat), Qiyada (kepemimpinan), Sadana (adminstrasi kota suci), Hijaba (pemeliharaan Ka'bah), Siqaya (pengadaan air minum buat para jemaah haji), Imaratul-bait (pemeliharaan kesucian Ka'bah), Ifa`da (mereka yang berhak memberi izin pada orang pertama yang melangkah dalam acara perayaan), Ijaza, Nasi (institutsi penyesuaian kelender), Qubba (membuat tenda mengumpulkan sumbangan bagi mengatasi keadaan darurat, A'inna (pemegang kendali kuda), Rafada (pajak untuk membantu para jemaah haji yang miskin), Amwal muhajjara (sedekah untuk kesucian), Aysar, Ashnaq (pembuat perkiraan pertanggungan jawab keuangan) Hukuma (pemerintahan), Sifarah (kedutaan), `Uqab (penentuan standar), Liwa (panji) dan Hulwan-un¬nafr (mobilisasi kesejahteraan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tugas berat ini menjadi tanggung jawab anak cucu keturunan Qusayy. Keturunan 'Abdul-Dar misalnya mengambil alih tugas pemeliharaan Ka'bah, balai kelembagaan, dan hak-hak mengangkat panji pada semua staf pada saat peperangan.35 'Abd-Manaf mengatur hubungan luar negeri dengan penguasa Romawi, dan pangeran Ghassan. Hashim (putra lelaki 'Abd-Manaf) mengadakan perjanjian dan dikatakan telah menerima perintah dari kaisar memberi kekuasaan pada orang Quraish untuk melakukan perjalanan melalui Suriah dalam keadaan aman."36 Hashim dan kelompoknya tetap mempertahankan tugasnya sebagai kepala pengaturan makanan dan minuman untuk para jamaah haji. Kekayaannya telah memberi peluang melayani para jamaah haji dengan kebesaran seorang pangeran.37 &lt;br /&gt;Sewaktu melakukan misi perdagangan ke Madinah, Hashim terpikat oleh seorang wanita bangsawan suku Khazarite, Salma bint 'Amr. la menikah dan kembali bersamanya ke Mekah, namun saat dalam keadaan hamil ia memilih kembali ke Madinah dan melahirkan seorang putra, bernama Shaiba di sana. Hashim meninggal di Gaza pada saat melakukan misi perdagangan,38 dan memberi kepercayaan pada saudaranya, Muttalib, guna memelihara putranya39 yang saat itu, masih bersama sang ibu. Saat melakukan perjalanan ke Madinah, Muttalib berselisih paham dengan janda Hashim tentang penjagaan pemuda Shaiba, yang pada akhirnya ia berada pada pihak yang menang. Dengan kembali bersama paman dan keponakannya ke Mekah, orang salah pengertian dan mengira anak lelaki itu sebagai hamba Muttalib. Oleh sebab itu, nama julukan Shaiba menjadi 'Abdul-Muttalib.40 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggal pamannya, 'Abdul-Muttalib, mewarisi tugas Siqaya (pengadaan air minum buat para jamaah haji) dan Rafada (pengumpul bantuan keuangan untuk para jamaah haji miskin).41 Setelah menemukan kembali sumur zamzam yang mata airnya terbenam dan sudah terlupakan di bawah himpunan pasir beberapa tahun lamanya, ia memperoleh kehormatan dan ketinggian menjadi gubernur kota Mekah. Beberapa tahun sebelumnya ia pernah nazar bahwa jika ia diberi sepuluh orang putra, ia akan mengorbankan satu di antara mereka demi sebuah patung berhala. Sekarang, setelah diberi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;v. Masa Qusayy Hingga Muhammad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keberkahan dengan sejumlah putra seperti dikehendaki, 'Abdul-Mutallib berupaya memenuhi janjinya dengan meminta pendapat Azlam42 agar memilih siapa di antara mereka yang hendak dikorbankan. Nama anak termuda (yang paling digemari), 'Abdullah, ternyata itu yang muncul. Pengorbanan ke¬munisaan dianggap suatu yang tidak disenangi di kalangan orang Quraish, maka ia mengontak juru sihir yang, menurut ramalan, 'Abdullah akan ditukar dengan seekor unta. Azlam kembali dihubungi, dan nilai nyawa anak muda itu ditaksir dengan harga seratus unta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena luapan kegembiraan melihat peristiwa tersebut 'Abdul-Muttalib membawa putranya, 'Abdullah, ke Madinah untuk mengunjungi beberapa kerabatnya. Di sanalah `Abdullah mengawini Amina, sepupu perempuan Wuhaib yang merupakan tuan rumah dan memiliki asal usul keturunan kabilah (saudara laki-laki Qusayy mendirikan kabilah bani Zuhra dari suku Wuhaib). 'Abdullah menikmati kedamaian dalam keluarga beberapa lama sebelum memulai misi perdagangan ke Syria. Malangnya sepanjang perjalanan jatuh sakit. la kembali ke Madinah dan meninggal dunia di saat Amina mulai kehamilan Muhammad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;vi. Kondisi Keagamaan di Jazirah Arabia &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sejak berabad-abad penyem¬bahan patung berhala tetap tak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman kaum Yahudi maupun upaya-upaya Kristenisasi yang muncul dari Syria dan Mesir. William Muir, dalam bukunya, The Life of Mahomet, beralasan bahwa kehadiran kaum Yahudi atau keberadaan mereka membantu menetralisasi tersebarnya ajaran Injil melalui dua tahap. Pertama, dengan memperkuat diri sendiri di sebelah utara perbatasan Arab, dan untuk itu, mereka membuat penghalang, barrier, antara ekspansi Kristen ke utara dan penghuni kaum berhala di sebelah selatan. Kedua, para penyembah berhala bangsa Arab telah melakukan kompromi dengan agama Yahudi dalam memasukkan cerita legendaris guna menghabisi permintaan aneh-aneh agama Kristen.43 Saya tak dapat menerima teori pendapat ini sama sekali. Menurut pengakuan bangsa Arab, sebenarnya, sisa-sisa keagamaan monoteistik Nabi Ibrahim dan Isma'il yang telah diubah oleh khurafat dan kebodohan. Cerita yang biasanya dimiliki oleh kaum Yahudi dan orang Arab umumnya merupakan hasil keturunan nenek moyang bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Kristen abad ke-7 itu sendiri tenggelam dalatn perubahan dan mitos palsu dan terperangkap dalam stagnasi secara total. Dulunya Bangsa Arab yang mengikuti agama Kristen bukan disebabkan oleh sikap persuasif melainkan akibat kekejaman kekuasaan politik.44 Tak ada kekuatan yang dapat melumpuhkan para penyembah berhala bangsa Arab di mana kemusyrikan mencengkeram begitu kuatnya. Lima abad lamanya upaya Kristenisasi mem¬buahkan hasil nihil. Perpindahan terhadap agama Kristen hanya terbatas pada ban! Harith dari Najran, bani Hanifa dari Yamama, dan beberapa bani Tayy di Tayma'.45 Dalam masa lima abad, sejarah tidak mencatat adanya satu insiden apa pun yang menyangkut sikap penyiksaan para misionaris Kristen. Di sini sarigat berbeda dari nasib yang dialami oleh pengikut Muhammad sejak awal pertama di Mekah di mana kristenisasi dipandang sebagai suatu hal yang menyusahkan dan mendapat sikap toleran, sebaliknya Islam dianggap sebagai suatu yang membahayakan terhadap institusi keberhalaan bangsa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jawad 'Ali, al-Mufassal fI Tarikh al-Arab Qabl al-Islam, i.:569. &lt;br /&gt;2. Ibid. i:230-31.&lt;br /&gt;3. Ibid. i:231-232. &lt;br /&gt;4. Ibid. i:235.&lt;br /&gt;5. Ibid. i:235. &lt;br /&gt;6. Ibid. i:238.&lt;br /&gt;7. Ibid. i:232-233. &lt;br /&gt;8. Ibid. i:238.&lt;br /&gt;9. M. Mohar 'A17, Siratan-Nabi,jilid.lA, hlm.30-31, dikutip dari buku P.K. Hitti, History of the Arabs, hlm.8-9.&lt;br /&gt;10. Jawad 'All, al-Mufassal, i:223. &lt;br /&gt;11.  Ibid, i:224.&lt;br /&gt;12. Ibid. i:630. Kitab Perjanjian Lama menjelaskan bahwa Bangsa Arab dan Yahudi sama-sama keturunan Shem, putra Nuh.&lt;br /&gt;13. Versi James , Genesis 21:10.&lt;br /&gt;14. Al_Bukhari, Sahih, al-Anbiya'. hadith no.3364-65 (dengan komentar Ibn Hajr).&lt;br /&gt;15. Qur'an 37:102-107. &lt;br /&gt;16. Qur'an, 14:37.&lt;br /&gt;17. Qur'an, 14:37.&lt;br /&gt;18. M. Hamidullah, "The City State of Mecca", Islamic Culture, jilid.l2 (1938), hIm.258.&lt;br /&gt;19. Ibid. Mengambil pendapat Lammens dalam karyanya, La Meqque a La Vielle de L'Hegire (hlm. 234, 239) serta lainnya.&lt;br /&gt;20. Jawad 'Ali, al-Mufassal fi Tarikh al-'Arab Qabl al-Islam, i:658, Ibid., i: 614-18 memuat&lt;br /&gt;informasi yang amat penting tentang pemukiman Bangsa Yahudi di Yathrib dan Khaibar. &lt;br /&gt;21. M. Mohar 'Ali, Sirat an-Nabi, jilid.1A, hlm. 32.&lt;br /&gt;22. Ibid., jilid.1A, hlm.32. &lt;br /&gt;23. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hIm.640.&lt;br /&gt;24. M. Mochtar 'Ali, Sirat an-Nabi, jilid.lA, hlm.32. &lt;br /&gt;25. Ibid., jilid.1A, hlm..32.&lt;br /&gt;26. Ibid., jilid.1A, hlm.32. &lt;br /&gt;27. Ibid., jilid.1A, p.32.&lt;br /&gt;28. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hlm.640-41. Imperium Byzantin memiliki prospek baru dalam memperpanjang pengaruhnya terhadap kota Mekah beberapa generasi kemudian saat seorang penduduknya, Uthman ibn al-Huwairith dari kabilah Asad, memeluk agama Kristen. Rajanya meletakkan tahta kebesarannya di kepala dan mengirimkannya (dia) memasuki Mekah dengan ditemani oleh Usase, minta penduduk Mekah menerimanya sebagai raja. Akan tetapi kabilah mereka sendiri menolaknya. (The City State of Mecca, hlm.256-7, dikutip oleh as-Suhaili (Raudul unf, i:146) dan lainnya.&lt;br /&gt;29. Ibn Hisham, Sira, jilid.l-2, hlm. 1-2, hlm. 105-108. Untuk tanggal seperti tampak dalam tabel, harap dilihat pada karya Nabia Abbott, The Rise of the North Arabic Script and Its Kuranic Development, with a full Description of the Kuran Manuscripts in the Oriental Institute, The University of Chicago Press, Chicago, 1938, hlm. 10-11. Abbott menyebut ketidak setujuannya di antara kaum orientalis tentang tahun.&lt;br /&gt;30. lbn Hisham, Sira, ed. By M. Saqqa, 1. al-Ibyari dan ‘A. Shalabi, 2nd edition, Mustata al-Babi al-Halabi, publishers, Cairo, 1375 (1955), jilid.1-2, hlm. 117-8. Buku ini dicetak dalam dua bagian, bagian pertama terdiri atas dua jilid, dan bagian kedua terdiri dari jilid 3-4. Halaman dari kedua bagian tersebut tertulis kata terus-menerus.&lt;br /&gt;31. Ibn Qutaiba, al-Ma'arif, hlm.640-41.&lt;br /&gt;32. Ibn Hisham, Sira, jilid.3-4, hlm.315.&lt;br /&gt;33. Saat itu Ka`bah dikelilingi ratusan patung berhala. &lt;br /&gt;34. The City State of Mecca, hlm.261-276.&lt;br /&gt;35. William Muir, The Life of Mahomet, 3rd edition, Smith, Elder, &amp; Co., London, 1894, hlm.&lt;br /&gt;xcvii &lt;br /&gt;36. Ibid. hlm. xcvii. &lt;br /&gt;37. Ibid. hlm. xcvi.&lt;br /&gt;38. Ibn Hisham, Sira, jilid.1-2, hlm. 137. &lt;br /&gt;39. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137.&lt;br /&gt;40. Ibid. hlm. 1-2, hlm. 137.&lt;br /&gt;41. Ibid. hlm. 1-2, p.142.&lt;br /&gt;42. Sistem pengambilan calon (kandidat) dilakukan secara random dengan menggunakan anak panah ketuhanan yang disimpan di bawah proteksi tuhan tertentu.&lt;br /&gt;43. William Muir, The Life of Mohomet, hlm. Ixxii-Ixxxiii.&lt;br /&gt;44. Ibid., hlm. lxxxiv. Pendapat ini terasa benar karena sejak beberapa masa ketika Kristen mulai melangkah disebabkan kekejman penjajahan (by dint of Colonialist coercion.&lt;br /&gt;45. Ibid., hlm. xxxiv-lxxxv&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-8458559402050916197?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/8458559402050916197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/sekilas-tentang-sejarah-islam-di-masa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8458559402050916197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/8458559402050916197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/07/sekilas-tentang-sejarah-islam-di-masa.html' title='SEKILAS TENTANG SEJARAH ISLAM DI MASA SILAM'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2384936047437293059.post-456228981479299367</id><published>2009-06-26T16:55:00.001+07:00</published><updated>2009-06-26T17:00:38.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacana'/><title type='text'>SEJARAH TEKS AL-QURAN, 1</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1204903850; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1870745484 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:1485973763; 	mso-list-template-ids:-1171229792;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 18pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;“ Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. "&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n1#n1"&gt;&lt;span style=";color:#000000;" &gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[if !supportNestedAnchors]--&gt;&lt;a name="1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Petunjuk, Kesenangan dan Keindahan. Bagi seorang yang beriman Kitab Suci Al-Qur'an akan melebihi segalanya: denyut keimanan, kenangan di saat mengalami kegembiraan dan penderitaan, sumber realitas ilmiah yang tepat, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; lirik yang indah, khazanah kebijaksanaan serta munajat. Ayat-ayatnya menghiasi mulai dinding toko buku hingga ruang tamu, terukir dalam ingatan tua dan muda, serta gaungya terdengar di keheningan malam dari atas menara masjid di seluruh dunia. Namun demikian, Sir William Muir (1819-1905) tetap memberi pernyataan, "Islam sebagai musuh peradaban, kebebasan, clan kebenaran seperti dunia telah mengakuinya."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n2#n2"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Tak ada manusia lain yang ber­sikap toleransi kecuali menebar rasa benci dan curiga terhadap A1-Qur'an sejak abad-abad silam hingga kini seperti dilakukan oleh para ilmuwan, penginjil, hingga para politikus musiman. Dikotomi seperti itu sangat menyakitkan hati umat Islam dan juga membingungkan kalangan non-Muslim yang pada giliran­nya akan membenarkan anggapan bahwa setiap kelompok akan menghina kitab suci orang lain. Di mana bukti dan faktanya? Dihadapkan pada pokok pembicaraan yang teramat luas lagi sensitif dan penuh pemikiran yang perlu pertimbangan, saya menjelajah ke mana-mana yang pada mulanya, kemudian membuahkan hasil, berawal dari sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang yang namanya tak pernah saya dengar sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Apakah Al-Qur'an itu? Artikel utama terbitan Januari 1999 yang dimuat di &lt;i&gt;Atlantic Monthly, &lt;/i&gt;mengangkat asal usul keaslian dan integritas Al-Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n3#n3"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Kualifkasi pengarang, Toby Lester, seluruhnya seperti tertulis dalam majalah memberi isyarat bahwa la tidak belajar Islam kecuali dari pengala:nan selama tinggal di Yaman dan Palestina beberapa tahun kendati hal ini tidak me­nunjukkan tanda-tanda untuk menghalangi karena tampaknya ia belajar sungguh-sungguh dalam membuat perdebatan. la mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Keilmuan Barat tentang Al-Qur'an biasanya terjadi dalam bentuk pernyataan permusuhan secara terbuka antara Kristen dan Islam. Ilmuwan Kristen dan Yahudi khususnya menganggap Kitab Suci Al-Qur'an ada dalam lingkaran perubahan...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n4#n4"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;Setelah mengupas kecaman William Muir terhadap Al-Qur'an, T. Lester, menjelaskan bahwa dulu para ilmuwan Soviet melihat Islam berdasarkan sikap keragu-raguan ideologi. N.A. Morozov misalnya, dengan mudah memberi alasan bahwa "hingga masa Perang Salib tidak dapat dibedakan dengan agama Yahudi dan hanya setelah masa itu ia memiliki ciri khas tersendiri sedang Muhammad dan para Khalifah pertama tidak lebih dari tokoh dalam cerita bohong."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n5#n5"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pendapat ini dapat memberi isyarat pada pihak lain bahwa pendekatan yang dilakukan T. Lester karena semata-mata akademik: suatu keingintahuan seorang wartawan dalam memberi laporan secara jujur. Dalam satu wawancara dengan harian &lt;i&gt;ash-Sharq al-Awsat&lt;a name="6"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n6#n6"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;color:maroon;" &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;ia menolak anggapan akan adanya niat jahat, perasaan marah, perilaku salah terhadap umat Islam dan bahkan bersikeras ingin mencari kebenaran. Tetapi tak bisa dimungkiri bahwa ia telah menguras tenaga dalam mengumpulkan sumber informasi dari kelompok yang antitradisi dan menyeru perlunya penafsiran ulang terhadap Kitab Suci umat Islam. Secara jelas ia mengutip pendapat Dr. Gerd R. Joseph Puin, perihal pemulihan kepingan kertas kulit naskah Kitab Al-Qur'an yang terdapat di San'a', Yaman, yang saya lihat baru-baru ini di mana la dan kelompoknya pantas mendapat acungan jempol. Sekarang, seorang pekerja penjilidan buku yang dapat melakukan tugasnya dengan balk tentang matematika yang teramat kompleks, tidak secara otomatis sama derajatnya dengan pakar matematika karena jasanya dalam tnengatur halaman-halaman yang ada. Di sini J. Puin dikelompokkan sebagai ahli tentang sejarah Al-Qur'an secara keseluruhan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;"Begitu banyak kaum Muslimin beranggapan bahwa Al-Qur'an merupakan kata-kata Tuhan yang tidak pernah mengalami perubahan,"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; begitu kata Dr. Puin. "Mereka sengaja mengutip karya naskah yang menunjukkan bahwa Bible memiliki sejarah dan tidak langsung turun dari langit, namun hingga sekarang AI-Qur'an berada di luar konteks pembicaraan ini. Satu-satunya cara menggempur dinding penghalang ini adalah mengadakan pembuktian bahwa Qur'an juga memiliki sejarah. Beberapa kepingan kertas kulit yang ada di San'a akan dapat membantu upaya ini."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n7#n7"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Referensi lain yang digunakan T. Lester adalah Andrew Rippin, seorang profesor di bidang kajian agama-agama dari Universitas Calgary yang menjelaskan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;"Bacaan yang berlainan dan susunan ayat-ayat kesemuanya teramat penting. Semua orang sependapat akan masalah ini. Naskah-naskah ini menyebut bahwa sejarah teks Al-Qur'an di masa lampau melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka dari apa yang lazim dianggap orang banyak: teks itu tidak tetap dan memiliki kekurangan otoritas dari anggapan yang ada. "&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a name="8"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n8#n8"&gt;&lt;span style=";color:maroon;" &gt;8&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Secara pribadi saya melihat pendapat Prof. Rippin sangat membingungkan. Di satu sisi sejak masa Nabi Muhammad, para sahabat mengakui adanya perbedaan bacaan. Sangat tidak beralasan untuk dikatakan sebagai penemuan baru. Di sisi lain, bukan Puin sekali pun (sejauh yang saya pahami) beranggapan telah menyingkap perbedaan-perbedaan susunan ayat Al-Qur'an dalam naskah, kendati pendapatnya tentang Al-Qur'an sejalan dengan aliran revisi modern yang mengatakan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;"Pemikiran saya adalah bahwa Al-Qur'an tidak lebih dari naskah cocktail yang tidak semuanya dapat dipahami di zaman Nabi Muhammad sekalipun."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Begitu kata Puin. &lt;i&gt;"Banyak di antaranya yang mungkin seratus tahun lebih tua dari Islam itu sendiri. Kendati dalam tradisi ke­ islaman terdapat informasi silang yang amat besar, termasuk dasar agama Kristen; seseorang dapat menyerap seluruh antisejarah Islam dari mereka jika ia menghendaki."&lt;/i&gt; Patricia Crone memberi pembelaan tujuan-tujuan pemikiran seperti ini. &lt;i&gt;"Al-Qur'an tak ubahnya sebagai satu kitab suci dengan satu sejarah seperti agama lain-hanya saja kita tidak memahami sejarah ini dan cenderung ingin membangkitkan teriakan protes saat kita mengkajinya.'&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n9#n9"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kalangan orang Arab selalu beranggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab yang memiliki keunikan lagi indah sampai para penyembah berhala di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Mekah merasa haru melihat susunan liriknya dan mereka tidak mampu menciptakan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n10#n10"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;10&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Mutu seperti ini tidak dapat menghalangi orang­orang seperti Puin melempar penghinaan seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;"Al-Qur'an menyatakan bahwa ini adalah 'mubeen', atau 'jelas'," katanya. "Tetapi jika Anda perhatikan, Anda akan catat bahwa tiap &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kalimat atau yang sederhana saja tidak dapat dimengerti. Tentunya orang­orang Islam dan juga sebagian orientalis berkata lain, tetapi fakta menunjukkan bahwa seperlima Al-Qur'an tidak dapat dipahami."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="11"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n11#n11"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;11&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;G.R. Puin mengumbar ucapannya tanpa memberi contoh dan saya telah kehabisan langkah dalam melacaknya di mana letak seperlima Al-Qur' an yang tidak dapat dimengerti. Lebih lanjut ia menyebut bahwa kesediaan menerima pemahaman seperti itu bermula secara sungguh-sungguh pada abad kedua puluh.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n12#n12"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;12&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; la merujuk pada tulisan Patricia Crone dengan mengutip pendapat R.S. Humphreys,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="13"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n13#n13"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;13&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; yang kemudian diakhiri dengan pendapat Wansbrough. Serangan utama dari tulisan Wansbrough ingin menciptakan pendapat tentang dua masalah penting. Pertama, Al-Qur'an dan hadith disebabkan oleh berbagai pengaruh komunitas lebih dari dua abad. Kedua, doktrin ajaran Islam mengikuti cara pemimpin agama Yahudi. Tampaknya Puin sedang membaca kembali karyanya di saat sekarang, karena teorinya berkembang begitu lambat dalam kalangan terbatas di mana "umat Islam melihatnya sebagai sikap penyerangan yang menyakitkan."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="14"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n14#n14"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;14&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Para pembaca tentu mengenal siapa Cook, Crone dan Wansbrough sejak seperempat abad, wajah baru muncul dari kalangan ini adalah Dr. Puin, yang penemuannya dijadikan rujukan utama dalam karya Lester yang begitu panjang. Beberapa naskah Al-Qur'an di atas kertas kulit dari Yaman merujuk pada dua abad pertama Islam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Terungkap sedikit namun mampu membangkitkan minat melakukan penyimpangan terhadap standar naskah Al-Qur'an. Penyelewengan seperti ini, kendati tidak mengherankan para ahli sejarah naskah Al-Qur'an, pada hakikatnya sangat mengganggu perasaan dan kepercayaan di kalangan Muslim orthodoks yang mempunyai anggapan bahwa Al-Qur'an yang sampai ketangan kita, hingga hari ini, masih dalam bentuknya yang sempurna, tanpa batas waktu, dan kata-kata Tuhan yang tidak pernah berubah. Pada dasarnya upaya kaum sekuler dalam upaya penafsiran ulang &lt;i&gt;terhadap &lt;/i&gt;Al-Qur'an-sebagian berdasarkan fakta akan adanya kulit kertas naskah yang ada di Yaman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n15#n15"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;15&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; sebagai gangguan dan serangan terhadap kalangan Islam sebagaimana rencana pengadaan reinterpretasi Kitab Injil dan kehidupan Jesus yang akan mengganggu dan merupakan penyerangan terhadap kalangan Kristen konservatif. Upaya reinterpretasi sekuler seperti itu, sangat kuat dan-sebagaimana demonstrasi sejarah renaissance dan reformasiakan mengarah &lt;i&gt;terhadap &lt;/i&gt;lahirnya perubahan sosia] secara mendasar. Al-Qur’an, bagaimana pun, di saat sekarang merupakan naskah yang paling berpengaruh dari segi pemikiran ideologi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n16#n16"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;16&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Seluruh permasalahan yang ada di hadapan kita adalah seperti berikut: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 28.8pt 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Symbol;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kitab suci Al-Qur' an dianggap sebagai naskah yang paling berpengaruh secara ideologi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 28.8pt 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Symbol;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kalangan umat Islam melihat Al-Qur'an sebagaimana orang-orang Kristen memandang Kitab Injil &lt;i&gt;kalamullah &lt;/i&gt;yang tidak pernah berubah.&lt;br /&gt;Fragmentasi naskah Al-Qur'an yang terdapat di Yaman dapat membantu upaya-upaya kalangan sekuler dalam mengadakan reinterpretasi Al­Qur' an.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 28.8pt 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Symbol;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kendati merupakan sikap ofensif terhadap sejumlah besar umat Islam, reinterpretasi ini dapat menjadi impetus 'dorongan' perubahan sosial secara mendasar seperti yang dialami oleh agama Kristen beberapa abad yang silam.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 28.8pt 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Symbol;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan dengan menunjukkan bahwa Al-Qur'an pada dasarnya sebagai naskah cair &lt;i&gt;(fluid text)&lt;/i&gt; di mana saat masyarakat Islam memberi kontribusi dan secara bebas menata kembali apa yang telah disusun beberapa abad sebelumnya, dapat memberi isyarat bahwa Qur'an tidak lagi suci, dan bahkan telah sesat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Sebagian besar rujukan yang digunakan T. Lester dan nama-nama yang dikutip kebanyakan dari kalangan ini: Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbrough. la juga berupaya meyakinkan munculnya cuaca segar di mana dunia Islam mulai menunjukkan langkah positif terhadap gerakan revisionism. Dalam kategori ini ia menyebut nama-nama seperti Nasr AN Zaid, Taha Husain, 'All Dushti, Muhammad 'Abdu, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun dan pesannya yang begitu gencar dalam memerangi pikiran konservatif.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n17#n17"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;l&lt;i&gt;7&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Sedang aliran pemikiran dari kalangan ilmuwan tradisional semua dicampakkan, kecuali nama Muhammad 'Abdu yang kontroversial dimasukkan ke dalam daftar.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Akan tetapi, apakah sebenarnya aliran revisionisme itu? Di sini, T. Lester gagal memberi definisi terperinci, maka di sini izinkanlah saya memberi peluang Yehuda Nevo, salah satu sumber utama yang ia kutip membantu mendefinisikannya:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pendekatan kaum "revisionis" sama sekali bersifat monolitik ... (akan tetapi mereka) bersatu dalam menolak validitas sejarah pada sejumlah masalah semata-mata berdasarkan fakta-fakta yang diserap dari sumber literatur Muslim. Informasi yang mereka peroleh hendaknya diperkuat dengan data-data kasar yang masih ada... Sumber-sumber tertulis harus diteliti dan dihadapkan dengan bukti dari luar dan jika terdapat silang di antara keduanya, yang kedua harus diberi prioritas lebih.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n18#n18"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Karena bukti dari luar sangat diperlukan dalam memberi pengesahan pendapat setiap Muslim, maka tidak adanya bukti kuat akan membantu penolakan anggapan dan memberi pernyataan secara tidak langsung tentang permasalahan yang tidak pernah terjadi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Karena tidak adanya bukti yang dikehendaki di luar pendapat tradisional, maka akan jadi bukti positif dalam memperkuat hipotesis terhadap sesuatu yang tidak pernah terjadi. Contoh nyata adalah kurangnya bukti di luar literatur Muslim, di mana berdasarkan fakta yang ada semua orang Arab sudah memeluk agama Islam saat terjadi penaklukan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Mekah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n19#n19"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;19&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hasil pendekatan revisionis tidak lain ingin menghapus sejarah Islam secara menyeluruh dan pemalsuan terhadap yang lain di mana peristiwa seperti munculnya berhala di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Mekah sebelum Islam, permukiman Yahudi di Madinah, dan kemenangan umat Islam terhadap Byzantin atau imperium Byzantin di Syria semuanya ditolak. Pada dasarnya, gerakan revisionisme memandang bahwa berhala yang ada di Mekah sebelum Islam semata-mata penjelmaan khayal dari budaya keberhalaan yang berkembang di sebelah selatan Palestina.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n20#n20"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;20&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Masalah sentral yang perlu mendapat penjelasan di sini adalah adanya tujuan pasti di balik penemuan yang ada. Hal tersebut bukan muncul secara vacum atau terjadi dengan tanpa rencana di atas pangkuan para Ilmuwan. Mereka merupakan gagasan dari sebuah ideologi dan arena politik yang dibuat secara terselubung di balik kemajuan penelitian akademik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="21"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n21#n21"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;21&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Berbagai upaya pengaburan ajaran Islam dan Kitab Sucinya bermula sejak lahirnya agama tersebut, kendati strategi di balik itu mengalami peru­bahan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sejak agama Islam lahir hingga abad ke tiga betas hijriah atau abad ke tujuh dan ke delapan hingga abad ke tiga betas setelah hijriah (dari abad ketujuh hingga delapan betas masehi), tujuan utamanya adalah bagaimana memberi proteksi kuat agama Kristen dalam menghadapi arus kemajuan agama ini di Irak, Suriah, Palestina, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Mesir&lt;/st1:city&gt;,  &lt;st1:country-region st="on"&gt;Libya&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dll. Salah satu contoh nyata dari masa ini adalah Yohannes dari Damascus (35­133 hijriah./675-750 Masehi), Peter The Venerable (1084-1156 Masehi), Robert of Ketton (1084-1156 Masehi), Raymond Lull (1235-1316 Masehi), Martin Luther (1483-1546 Masehi), Ludovico Marraci (1612-1700 Masehi). Mereka memperalat pena dengan cara yang tidak sederhana menghendaki sikap ketololan dan pemalsuan. Dipicu oleh semangat perubahan politik yang menguntungkan dan dimulainya penjajahan sejak abad kedelapan betas hingga seterusnya, tahap kedua penyerangan terhadap agama Islam menunjukkan perubahan sikap setelah melihat banyak orang masuk Islam atau sekurang­kurangnya munculnya rasa bangga dan penentangan yang lahir dari kepercayaan mereka terhadap Allah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Abraham Geiger (1810-1874) termasuk pada masa kedua. Disertasinya berjudul &lt;i&gt;What hat Mohammaed aus den Judettum aufgenommen? &lt;/i&gt;('Apa yang diambil oleh Muhammad dari agama Yahudi?') merupakan upaya menguak pencarian pengaruh tersembunyi terhadap Al-Qur'an yang menyebabkan lahirnya buku-buku dan artikel yang tak terhingga jumlahnya dengan tujuan hendak memberi anggapan seperti halnya Kitab Injil yang palsu dan penuh kesalahan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bab-Bab berikut akan menampilkan nama-nama lain yang jadi pelopor periode ke dua, seperti Noldeke (1836-1930), Goldziher (1850-1921), Hurgonje (1857-1936), Bergstrasser (1886-19330, Tisdall (1859-19280, Jeffery (d.1952) dan Schact (1902-1969). Kelompok ketiga bermula dari pertengahan abad ke-20 sejak berdirinya negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Israel&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, secara aktif berupaya melenyapkan ayat-ayat Al-Qur'an yang mengutuk kebiadaban perilaku kaum Yahudi. Di antara pengikut aliran ini adalah Rippin, Crone, Power, Calder dan, tidak ketinggalan juga Wansbrough. Teori mereka menyebut bahwa Al-Qur'an dan hadith merupakan produksi masyarakat yang selama dua abad secara fiktif dinisbahkan pada seorang Nabi Arab berdasarkan &lt;i&gt;prototype &lt;/i&gt;yang dilakukan oleh orang Yahudi yang tentunya merupakan pendekatan paling keji dalam menepis AI-Qur' an dari statusnya yang suci.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Beberapa dasawarsa-dasawarsa yang silam mulai menyaksikan pen­dewasaan kedua kelompok terakhir dengan agak cepat dalam menggunakan cara-cara yang agak fair dalam menyerang Al-Qur'an yang dikemas melalui kontekstualisasi budaya, di mana dianggap sebagai basil dari masa tertentu yang sudah usang dari sebuah kitab yang berlaku bagi semua ruang dan waktu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Islam tradisional tidak begitu gamang jika disebut bahwa &lt;i&gt;wahyu &lt;/i&gt;merefleksikan milieu saat ia diturunkan... Akan tetapi Islam tradisional tidak pernah membuat lompatan dari suatu pemikiran bahwa kitab yang berkaitan dengan masyarakat di mana ia diwahyukan pada sebuah gejala yang merupakan &lt;i&gt;produk &lt;/i&gt;masyarakat itu sendiri. Bagi sebagian besar umat Islam di dunia modern, gerakan penting apa pun dari sebuah aliran pemikiran tak mungkin jadi pilihan dalam waktu dekat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="22"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n22#n22"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;22&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pendapat itulah yang menyulut inspirasi Nasir Abu Zaid (seorang yang telah dinyatakan &lt;i&gt;murtad &lt;/i&gt;oleh pengadilan tinggi Mesir yang menurut Cook, sebagai "Muslim sekuler"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="23"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n23#n23"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;23&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;), di mana keyakinan utama tentang Al-Qur'an sebagai berikut,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Jika teks Al-Qur'an adalah risalah yang ditujukan kepada orang Arab pada abad ke tujuh, maka tentu dibuat formulasi dengan suatu cara yang secara spesifik berdasarkan sejarah sesuai dengan bahasa dan kultur yang ada. Jika demikian halnya, maka, Al-Qur'an dibentuk sesuai dengan susunan kemanusiaan &lt;i&gt;(a human setting). &lt;/i&gt;la merupakan &lt;i&gt;produk kebudayaan', &lt;/i&gt;suatu ungkapan yang sering dipakai Abu Zayd, yang dinyatakan di depan Mahkamah kasasi yang menempatkan ia sebagai orang kaflr.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="24"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n24#n24"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;24&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pendekatan Al-Qur'an melalui pendapat tekstual tampak cukup lunak bagi yang merasa belum kenal; Bagaimana mungkin bahaya dari konsep pemikiran sebagai pendekatan secara 'semantik' dan linguistik tekstual ter­hadap Al-Qur'an? Perhatian utama bukanlah kajian terhadap teks itu sendiri dan perkembangan &lt;i&gt;evo]usinya, &lt;/i&gt;melainkan bagaimana bentuk struktur Al­Qur'an diambil dari literature bahasa Arab di abad ke-7/ke-8.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="25"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n25#n25"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;25&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Berbicara tentang ilmuwan Kitab Injil seperti Van Buren, Professor E.L. Mascall menjelaskan, "(ia) menemukan dasar-dasar petunjuk tentang seku­larisasi Kristen dalam aliran filsafat yang biasanya dikenal dengan analisis dari segi bahasa."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="26"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n26#n26"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;26&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Jika hal yang demikian dimaksudkan pada analisis bahasa kajian Kitab Injil, apakah motif lain dalam mengaplikasikan pendekatan ini terhadap kajian Al-Qur'an?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hal ini di luar bidang dari apa yang dapat diterima oleh kalangan umat Islam, strategi lain adalah keinginan mengubah naskah suci Al-Qur'an melalui terjemahan bahasa sehari-hari yang kemudian mengangkatnya sederajat dengan bahasa Arab asli. Dengan cara demikian masyarakat Muslim, di mana tiga perempatnya bukan Arab, akan dapat mengalami &lt;i&gt;keterputusan &lt;/i&gt;dari wahyu Allah yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Adalah sangat tidak tepat antara bahasa Arab Al-Qur'an dan bahasa setempat pada tingkat pendidikan dasar. Ketegangan semakin &lt;i&gt;runyam &lt;/i&gt;setelah melihat fakta bahwa gerakan modernitas bermaksud menguatkan perhatian dalam mencerdaskan kitab suci di kalangan sebagian besar orang-orang yang beriman. Seperti dikatakan oleh tokoh nasionalis Turki, Ziya Gokalp (w.1924), "Suatu negeri di mana di sekolah-sekolah mengajar Al-Qur'an pada setiap orang dalam bahasa Turki merupakan fakta bahwa tiap orang tua dan muda dapat mengenal perintah Tuhan."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="27"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n27#n27"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;27&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Setelah menjelaskan usaha sia-sia yang dilakukan oleh Turki dalam mengubah Al-Qur' an dengan bahasa mereka, Michael Cook menyimpulkan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Kini dunia Muslim non-Arab menunjukkan sedikit tanda-tanda ingin mengikuti pemikiran bahasa kitab sehari-hari menurut cara yang terjadi pada abad ke enam belas yang dilakukan oleh orang-orang Protestan atau pada abad kedua puluh seperti yang dilakukan oleh orang-orang Katolik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="28"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n28#n28"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;28&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Jika semua upaya penipuan dalam keadaan serbamentok, jalan terakhir seperti ditegaskan oleh Cook:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Di kalangan masyarakat Barat modern, terdapat aksiomatik di mana kepercayaan agama orang lain (kendati, tentu saja, tidak semua orang ter­motivasi oleh perilaku keagamaan) harus diberi sikap toleransi dan bahkan dihormati. Tentunya akan dianggap sebagai langkah keliru dan picik untuk menyatakan pendapat keagamaan orang lain sebagai hal yang salah dan agama sendiri adalah benar... Anggapan akan kebenaran mutlak dalam masalah keagamaan sudah ketinggalan zaman dan tak mungkin dapat diharap lagi. Namun demikian, hal ini merupakan gejala yang mengemuka di kalangan Islam tradisi seperti dialami oleh kalangan Kristen tradisi, hanya saja di abad-abad terakhir terasa lebih dominan di kalangan Islam.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a name="29"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n29#n29"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;29&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Cook mengemukakan pendapatnya dalam tulisan yang berjudul "Sikap toleransi terhadap kepercayaan - orang lain", kendati yang dipaparkan menyentuh masalah universalisme. Dalam melihat sikap toleransi, Islam mempertahankan kejelasan ajarannya dalam mengatur hak-hak non-Muslim dan merupakan hal yang sangat terkenal. Serangan Cook tidak lain ingin menumbuhkan sikap keragu-raguan dan relativisme: suatu gejala penyamaan semua agama karena berpikir sebaliknya berarti mengkhianati diri sendiri sebagai sikap berpikir bodoh dan provincialisme'kampungan'. Sebenarnya, ini sistem perangkap yang lebih mudah bagi kalangan kontemporer Muslim yang tak terdidik secara balk. Sebagai akibat dari pikiran ini, "Terdapat kesepakatan dalam menolak segala bentuk rencana pembedaan antara non-Muslim, ilmu pengetahuan, dan kesarjanaan Muslim di masa sekarang mengenai sistem kajian Al-Qur'an."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="30"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n30#n30"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;30&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Sekarang muncul metode baru di kalangan ilmuwan Barat dalam menyerang tradisi buku-buku tafsir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="31"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n31#n31"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;31&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; menuntut pembaruan segalanya. Dengan alasan hak tersendiri dalam menafsirkan kitab suci, kebanyakan orientalis menepis pendapat ulama Islam terdahulu dengan "alasan bahwa-karena tertipu oleh suatu anggapan bahwa Al-Qur'an sebagai kitab suci-mereka sudah barang tentu tidak dapat memahami isi teks yang ada dengan baik seperti para sarjana Barat memahaminya secara liberal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="32"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n32#n32"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;32&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Basetti-Sani dan Youakim Moubarac keduanya ngototbahwa tafsiran AI-Qur'an mesti dibuat sejalan dengan ukuran kebenaran agama Kristen, suatu pernyataan yang mendapat acungan jempol dari W.C, Smith and Kenneth Cragg.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="33"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n33#n33"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;33&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Sebagai seorang pemimpin Gereja Anglican, Cragg menekankan agar umat Islam menghapus semua ayat yang diturtmkan di Madinah (dengan penekanan di bidang politik dan hukum) guna mempertahankan esensi ayat-ayat Makkiyyah yang secara umum lebih menyentuh masalah keesaan Tuhan &lt;i&gt;(monotheism) &lt;/i&gt;di mana ayat Madaniyyah dianggap meremehkan nilai ketuhanan dari esensi pernyataan tiada tuhan melainkan Allah .&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="34"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#n34#n34"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;34&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Konsep pemikiran ini bermaksud hendak "menggoyang" orang-orang yang lemah iman dan was-was dengan memperalat senjata "sikap sinis" kaum orientalis yang selalu menghujat serta menolak kitab asli yang mereka warisi agar semakin mudah menerima ideologi Barat. Artikel yang ditulis Toby Lester dapat dianggap sebagai kartu baru menggunakan fragmentasi Qur'an Yaman sebagai umpan. Pada dasarnya Dr. Puin menolak semua penemuan yang dinisbatkan T. Lester kepadanya dengan menepis beberapa perbedaan ejaan dan perkataan. Berikut adalah sebagian dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; asli Dr. Puin yang ditulis untuk Qadi Ismail al-Akwa' beberapa saat setelah muncul tulisan Lester­dengan terjemahannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="35"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#N35#N35"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;35&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hal yang sangat penting, puji syukur pada Allah &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:14.25pt;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image001.gif" shapes="_x0000_i1025" width="19" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;bahwa fragmentasi mushaf dari Yaman tidak berbeda dengan yang terdapat di berbagai museum dan perpustakaan di tempat lain dengan beberapa penjelasan yang tidak mengena dengan Al-Qur an, kecuali beberapa perbedaan dalam ejaan kata-kata. Hal ini merupakan suatu yang dikenal di kalangan luas bahwa seperti Qur' an yang diterbitkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Cairo&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 28.8pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;kata Ibrahim tertulis ( &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:20.25pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1026" width="27" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;) menjadi Ibrhm ( &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:18pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image003.gif" shapes="_x0000_i1027" width="24" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 28.8pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Qur'an juga ditulis ( &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:18pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image003.gif" shapes="_x0000_i1028" width="24" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;) menjadi Qrn ( &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:15.75pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image004.gif" shapes="_x0000_i1029" width="21" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 28.8pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Simahum tertulis( &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1030" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:26.25pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image005.gif" shapes="_x0000_i1030" width="35" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;) menjadi Simhum ( &lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1031" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:29.25pt;height:11.25pt'/"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/03/clip_image006.gif" shapes="_x0000_i1031" width="39" border="0" height="15" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;) etc.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: 28.8pt; text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Lihat teks gambar No. 1.1 hlm. 12. Dalam fragmentasi Al-Qur'an kuno yang terdapat di Yaman, tidak dituliskannya huruf alif merupakan gejala umum. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hal ini dapat menurunkan nilai perdebatan yang ada serta melenyapkan kekaburan jaringan licik di sekitar penemuan Dr. Puin membuat sebagai topik bahasan yang tidak perlu mengundang spekulasi lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="36"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#N36#N36"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;36&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Marilah ambil perumpamaan sekiranya penemuan itu benar, lantas bagaimana tanggapan kita? Di sini kita dihadapkan pada tiga permasalahan: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Apakah Al-Qur' an itu?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Jika seluruh naskah tidak ada atau sebagian ditemukan      saat sekarang maupun yang akan diklaim sebagai Al-Qur'an tapi berbeda dari      yang ada di tangan kita, apa pengaruhnya terhadap teks Al-Qur' an      sekarang?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Siapa yang berhak memegang otoritas Al-Qur'an, dalam      hal penulisan tentang agama dan sejarahnya?&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Ini semua akan diperjelas dalam tulisan ini guna mendobrak bukan saja jawaban-jawaban yang diperlukan melainkan juga logika penentu sikap mereka: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;a)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Al-Qur'an adalah kalamullah, risalah terakhir untuk umat manusia, &lt;i&gt;diwahyukan &lt;/i&gt;pada Rasul terakhir, Muhammad, yang meruang dan sewaktu. la terpelihara di segi keaslian bahasa tanpa perubahan, tambahan, maupun pengurangan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;b)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Tak akan ada penemuan Qur'an, baik secara fragmentasi maupun seluruhnya, yang berlainan dari teks yang ada di seluruh dunia. Jika ada, maka tidak akan dianggap sebagai Al-Qur'an, karena satu syarat utama penerimaannya mesti sesuai dengan teks yang digunakan dalam mushaf 'Uthmani.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="37"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#N37#N37"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;37&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;c)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Tentu saja siapa pun tak berhak melarang seseorang menulis tentang Islam, akan tetapi hanya seorang Muslim yang taat memiliki wewenang yang sah melakukan tugas tersebut dan bahasan lain yang ada hubung­annya. Mungkin pihak lain menganggap hal ini sebagai prasangka; tetapi siapakah yang tak bersikap demikian? Di luar kalangan Islam tidak dapat mengklaim sikap netral karena tulisan mereka sengaja ingin mengalihkan pikiran orang lain. Apakah ajaran Islam dapat menerima atau tidak ter­gantung kepercayaan masing-masing dan setiap penafsiran dari pihak Kristen, Yahudi, atheis, atau orang Islam yang tidak mau menjalankan Shari'atnya harus ditolak secara tegas. Saya dapat tambahkan jika tiap pandangan yang disukai bertentangan dengan dasar ajaran Nabi Muhammad saw. balk secara eksplisit mau pun sebaliknya, ia mesti ditolak dan hal ini berlaku bagi tulisan seorang Muslim yang taat sekalipun dapat ditepis sekiranya tidak ada gunanya. Bentuk selektivitas seperti ini berlaku sejak masa keemasan pemerintahan Ibn Sirin (w.110 H./728 M.):&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 17.85pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;" &gt;Ilmu ini merupakan agama Anda, maka hendaknya berhati-hati dari mana Anda mengambil agama.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a name="38"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#N38#N38"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;38&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Mungkin pihak lain menganggap umat Islam tidak memiliki alasan kuat dalam merespons metode keilmuan orang lain. Masalahnya, bagi orang Islam berlandaskan sepenuhnya pada keimanan bukan asal akal-akalan. Di sini saya perlu mengemukakan pendapat dalam menyikapi penemuan mereka dalam bab-bab berikut. Awalnya akan saya ceritakan beberapa bagian sejarah Islam sebagai titik awal memasuki kajian lebih dalam mengenai Al-Qur'an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;--------------- &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#1#1"&gt;&lt;span style="color:maroon;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Qur'an, 5:8&lt;a name="n2"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#2#2"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dikutip oleh M. Broomhall, Islam in &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;, New Impression, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1987, hlm. 2.&lt;a name="n3"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#3#3"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seperti penjelasan Lester. Kendati dalam tulisannya memberi ejaan Qur'an dengan Koran, hal ini secara teknis tidak benar dan saya akan menggunakan ejaan secara tepat jika tidak langsung mencatat dari ayat.&lt;a name="n4"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#4#4"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;4.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lester, hlm. 46.&lt;a name="n5"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#5#5"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibid.., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;h1m.46-47.&lt;a name="n6"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#6#6"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;London&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;, &lt;i&gt;18 &lt;/i&gt;Februari, &lt;i&gt;1999.&lt;a name="n7"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#7#7"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Lester, hlm.44, dengan penambahan cetak miring (italic).&lt;a name="n8"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#8#8"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;hlm. 45.Diberi tambahan dalam cetak miring. Perlu kiranya dicatat bahwa semua penilaian konyol telah dilemparkan jauh sebelum seseorang mempelajari secara sungguh-sungguh tentang naskah asli. Hal ini merupakan tipikal keilmuan dan pendekatan para orientalis.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n9"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#9#9"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;.&lt;i&gt; Ibid., &lt;/i&gt;h1m.46.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n10"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#10#10"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;10&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Lihat buku ini pada hlm. 51-53. &lt;a name="n11"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#11#11"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;11.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; Lester, hlm. 54.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n12"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#12#12"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;12.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt; &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 54. &lt;a name="n13"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#13#13"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;13&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 55 &lt;a name="n14"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#14#14"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;14&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;. 1bid., &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;hIm.55.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n15"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#15#15"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;15&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Sebagai tambahan, dalam penilaian saya the Turk ve Islam Eseleri Muzesi (Museum Kebudayaan Islam) memiliki koleksi lebih besar dari yang ada di Yaman. Sayangnya saya tidak diizinkan melihat koleksi ini. Keadaan ini masih spekulatif kendati menurut F. Deroche, ia menampung lebih kurang 210,000 folios ("The Qur'an of Amagur", Manuscript of the Middle East, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Leiden&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1990-91, vo1.5, h1m.59).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n16"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#16#16"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;16&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Lester, hlm. 44, dengan tambahan cetak miring.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n17"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#17#17"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;17&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm.56.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n18"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#18#18"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;18&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. J. Koren dan Y.D. Nevo, "Methodological Approaches to Islamic Studies", Der Islam, Band 68, Heft l, 1991, hlm.89-90.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n19"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#19#19"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;19&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;.&lt;i&gt; Ibid., &lt;/i&gt;hlm.92.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n20"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#20#20"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;20&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;.&lt;i&gt; Ibid., &lt;/i&gt;hIm.100-102. Lihat juga buku ini pada hlm. 376-8. &lt;a name="n21"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#21#21"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;21&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Topik bahasan lebih mendasar dapat dilihat pada bab 19.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n22"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#22#22"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;22&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Michael Cook, &lt;i&gt;The Koran: AQ Very Short introduction&lt;/i&gt;, Oxford Univ. Press, 2000, hlm.44. &lt;a name="n23"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#23#23"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;23&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm..46.&lt;a name="n24"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#24#24"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;24&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hlm. 46.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n25"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#25#25"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;25&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Untuk lebih jelas, harap di lihat Stefan Wild's (ed.), &lt;i&gt;Preface to The Qur'an as Text, &lt;/i&gt;E.J. Brill, Leiden, 1996, hlm. vii-xi.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n26"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#26#26"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;26&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. E.L. Mascall, &lt;i&gt;The Secularization of Christianity&lt;/i&gt;, Darton, Longman &amp;amp; Todd Ltd., &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;1965, hlm. 41. Dr. Paul M. Van Buren adalah penulis buku &lt;i&gt;"The Secular Meaning &lt;/i&gt;of &lt;i&gt;the Gospel"&lt;/i&gt;, yang ditulis menurut sistem analisis bahasa Injil &lt;i&gt;(ibid, &lt;/i&gt;hlm. 41.)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n27"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#27#27"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;27&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. M. Cook, &lt;i&gt;The Koran: A Very Short Introduction&lt;/i&gt;, hlm.26. Yang menarik Ziya Gokalp merupakan Domna Yahudi yang masuk Islam (M. Qutb, &lt;i&gt;al-Mustashriqun wa al-Islam&lt;/i&gt;, hlm. 198).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n28"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#28#28"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;28&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. M. Cook, &lt;i&gt;The Koran: A Very Short Introduction&lt;/i&gt;, h1m.27.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n29"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#29#29"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;29&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;., h1m.33, dengan penambahan penekanan. Kata-kata Cook berbunyi, "Hal itu merupakan masalah utama dalam tradisi Islam", yang (mungkin) dianggap tidak cocok lagi untuk Islam modem.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n30"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#30#30"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;30&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Stefan Wild (ed.), &lt;i&gt;The Qur'an as Text&lt;/i&gt;, p.x. Aslinya tertulis 'was' instead of 'is', akan tetapi perubahan waktu (tense) rasanya biasa saja seperti tidak ada suatu perubahan. Sebenarnya, tradisi keilmuan Muslim tentang Al-Qur'an selalu diletakkan pada posisi kelas dua di kalangan ilmuwan Barat, mengingat yang pertama tetap berpegang teguh pada tradisi sedang ke dua menghendaki adanya sistem perubahan atau &lt;i&gt;revionism.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n31"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#31#31"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;31&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. &lt;i&gt;Tafsir&lt;/i&gt; Al-Qur'an an.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n32"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#32#32"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;32&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. W.C. Smith, &lt;i&gt;"The True Meaning of Scripture"&lt;/i&gt;, IJMES, vol. 11 (1980), hlm..498.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n33"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#33#33"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;33&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Peter Ford, &lt;i&gt;"The Qur'an as Sacred Scripture"&lt;/i&gt;, Muslim World, vol. xxxiii, no.2, April 1993, hlm.151-53.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n34"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#34#34"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;34&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. A. Saeed, &lt;i&gt;"Rethinking Revelation as Condition for Interpretation of the Qur'an: A Qur'anic Perspective"&lt;/i&gt;, JQS, I-93-114.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="N35"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#35#35"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;35&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Guna mengetahui teks bahasa Arab seluruhnya dari &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; yang dikirim, dapat dilihat pada &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kabar harian, ath-Thawra, isu 24.11.1419 A.H./11.3.1999.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="N36"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#36#36"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;36&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Tercantum penemuan Puin dan anggapannya pada hlm. 349-351&lt;br /&gt;&lt;a name="N37"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#37#37"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color:maroon;"&gt;37&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Bentuk teks yang menunjukkan variasi dalam bentuk tulisan dapat dilihat pada bab ke-9, ke­10, dan ke-11. Namun demikian kita memberi pertimbangan bahwa terdapat lebih dari 250,000 manuskrip Al-Qur'an di seluruh dunia (harap dilihat pada hlm. 352.)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="N38"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="mk:@MSITStore:G:%5CBLOG%5CISLAMIKA%5CThe%20History%20of%20The%20Qur%27anic%20Text.chm::/I_bab01_00.htm#38#38"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:maroon;"  &gt;38&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;. Sebenarnya Ibn Hibban merujuk kata-kata ini pada sahabat lain, seperti Abd Huraira (w.58 hijriah), Ibrahim an-Nakha'i (w.96 hijriah), ad-Dahhak bin Muzahim (w.circa 100 setelah hijrah), al­asan al-Basri (w. 110 hijriah), dan Zaid bin Aslam (w.136 hijriah). (Ibn Hibban, al-Majruhin, i:21-23).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a name="n1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2384936047437293059-456228981479299367?l=islamudina.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://islamudina.blogspot.com/feeds/456228981479299367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/06/sejarah-teks-al-quran-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/456228981479299367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2384936047437293059/posts/default/456228981479299367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://islamudina.blogspot.com/2009/06/sejarah-teks-al-quran-1.html' title='SEJARAH TEKS AL-QURAN, 1'/><author><name>Dana Karya</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_Cy0qDVL9tAQ/Sln_Fyh99eI/AAAAAAAAABg/B4ApiJ9vsMc/S220/Lagi+dan+lagi+(2)edited.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
